Rupama
JEMBATAN CINTA Mardiah Daeng Baji
|
H |
empasan ombak berkejaran mengikuti irama sang bayu.
Daur nyiur melambai-lambai seakan menyambut kehadiran para nelayan. Mangrove
tumbuh subur di bantaran sungai. Tambak berbaris rapih di balik mangrove. Senyuman
sang surya di selah pepohonan semakin menambah pesona Jembatan Cinta.
Hiruk pikuk nelayan mengadu untung. Alunan suara transaksi
jual beli ikan di pagi hari bagaikan gemercik asmara backsound pementasan
sandiwara rakyat. Suasana persaudaran antarpemburu ikan segar menjadi perindu
kembali bersua. Rasa yang sama pun dialami oleh sosok pemenang Festival Dara Daeng kategoti
Daeng Pangkajene dan Kepulauan. Ia Bernama lengkap Paharuddin Apala,
namun warga kampung Pagang menyapanya dengan julukan La Pahe dengan areng paddaengang Daeng Maroa.
Kehadiran liburan panjang bagai
pelepas dahaga di tengah terik matahari. Kerinduan terhadap riuh mahajana
berdengung kencang di kuping. Pegari keindahan panorama di sekitar jembatan itu
terbayang di pelupuk mata. Hasrat bersua dengan Jembatan Cinta tak terbendung lagi.
Riang gembira La Pahe menunaikan
titah Sang Bunda berburu ikan segar di Jembatan Cinta. Sepanjang jalan, bola
matanya berbinar. Ingin rasanya secepat kilat berada di tempat itu, Setelah
tiba, seketika ia menatap di kejauhan sana, seorang nelayan dengan tubuh
dengkik terus berjuang mengayun sampan yang tampak usang. Walau masih pagi
hari, peluh menetes di pipinya. La Pahe spontan bergumam "Kasihan sekali,
mengapa ia masih bekerja padahal usia sudah senja, apa tak punya anak dan sanak
keluarga yang dapat menyantuninya?"
Menyambut kedatangan kakek itu, La
Pahe menghapiri Sang Kakek, lalu mengangkat keranjang ikan yang isinya tak
seberapa. Setelah melapor kepada Daeng
Madong, mandor ikan di lokasi itu, tanpa pikir panjang, ia langsung
memborong ikan tersebut. Sesampai di rumah ia disemprot marah, ternyata isi
keranjang bukanlah pesanan Bundanya. La
Pahe pun menarik napas panjang lalu berucap "Dengar dulu Bund, ada kisah pilu
di balik ikan ini, pemilik ikan ini adalah nelayan tua renta.” Sembari
menghapus tetesan air mata di pipi, La
Pahe berusaha meyakinkan dengan suara
lirih “Saya iba Bund sehingga langsung memborongnya."
Mendengar penjelasan itu, sontak
kemarahan Bunda berbalik menjadi gundah gulana. Ia menatap anaknya dalam
sembari berpetuah.
"Lihatlah, betapa banyak orang yang
kurang beruntung di sekitar kita, makanya kamu harus bersyukur dan tak boleh
menuntut lebih dari orang tua!
“Lihatlah Nak, begitulah orang tua
berjuang demi membahagiakan anaknya!”
Datomu
pernah berkata “I lalangi basa, i lalang tongi kalotoro.” Mendengar
ungkapan yang asing bagi La Pahe, spontanitas ia bertanya, “Maknanya apa Bunda?”
Bunda pun menjawab, “Makna pepatah ‘Di dalam basah, di dalam pula kering.’ Filosofinya adalah simbol orang tua yang tanpa
pamrih berjuang mencari nafkah sehingga terkadang pakaian
basah yang melekat di badan kering tanpa dijemur. Ia lebih mementingkan sanak
keluarga daripada dirinya sendiri. Untuk itu, sayangi orang tuamu, patuh, dan
taat terhadap nasihatnya!"
Mendengar wejangan Bunda, La Pahe tak
mampu mengucap kata. Air mata menetes deras. Ia memeluk erat tubuh Bunda seakan
tak ingin melepaskannya.
"Maafkan La Pahe selama ini Bunda,
saya terkadang melukai perasaan Bunda.”
“Saya suka menuntut lebih, padahal sebagai
anak belum mampu membalas pengorbanan Tetta dan Bunda," ucapnya,
sembari memegang jemari Bunda yang mengelus-elus kepalanya.
"Sudahlah Nak, Bunda telah
memaafkan anak-anak, jauh sebelum mereka minta maaf. Bunda sadar kesuksesan
anak-anak berasal dari rida orang tuanya. Intinya sekarang, kalian harus jadi
anak yang patuh terhadap ajaran agama, orang tua, dan sayang kepada sesama!"
“Nah, sekarang kamu istirahat dulu
Nak!”
La Pahe menuju kamar, lalu merebahkan
tubuh pada kasur empuk. Ia mencoba memejamkan mata, namun tak mampu. Pikirannya
terus tertuju kepada kakek nelayan itu. Spontan rasa penasaran La Pahe bangkit.
Ingin rasanya berjumpa dengan Pak Tua itu, tetapi tak tahu alamat rumahnya. Asyik
mengerutkan dahi, seketika, ia punya ide menanyakan alamatnya pada warga yang
berada di sekitar jembatan cinta. Setelah mendapat izin Bunda, ia pun
berangkat. Betapa bahagianya karena warga yang dijumpai langsung memberi alamat
yang diinginkan. Bukan hanya itu, ia pun memperkenalkan bahwa kakaek tua itu Bernama Daeng Gassing.
Tanpa pikir panjang La Pahe melajukan motor menuju rumah Daeng Gassing yang
terletak di Kampung Bonto Panno.
La Pahe tercengang. Berdiri bagaikan
patung menyaksikan dari luar lorong pemandangan di depan mata. Rumah gubuk yang
hampir roboh, namun penghuninya amat damai dan bahagia. Walau dengan langkah berat, ia memasuki gubuk
itu. Setelah megucap salam, ia pun bertanya kepada sosok pria setengah baya,
tentang keberadaan Daeng Gassing. La Pahe disilakan masuk. Melihat sosok pemuda yang samar-samar pernah dikenal
menyebabkan Daeng Gassing sontak terbelalak,
lalu menatap La Pahe keheranan.
"Kamu yang borong ikan Kakek?”
“Ada apa?”
“Kenapa ke rumah Kakek?”
"Perkenalkan Kek, nama saya
Paharuddin Apala, tapi orang di kampung lebih akrab menyapaku La Pahe atau Daeng Maroa.”
“Betul Kek, sayalah yang borong ikan Kakek
tadi pagi. Kehadiran saya di sini karena saya salut sama Kakek, salut sama
semangat Kakek.”
“ Saya mau belajar cara kerja ikhlas
dari Kakek."
Mendengar jawaban La Pahe, Daeng
Gassing hanya bisa tersipu malu, lalu mengangkat tangan kanan sebagai petanda permohonan
menikmati suguhan singkong rebus buatan putrinya.
Sambil menemani La Pahe, kakek itu
bercerita banyak tentang pekerjaan yang ditekuninya di sekitar Jembatan Cinta.
Mendengar kata Jembatan Cinta, rasa
penasaran La Pahe bangkit.
“Kek, mengapa jembatan itu disebut
Jembatan Cinta, pada hal tak pernah saya lihat sepasang kekasih di sana?"
Sambil mengerutkan dahi, Sang Kakek
menceritakan kisah penamaan jembatan itu.
"Menurut cerita yang saya
dengar, pada zaman dahulu di Kampung Bonto Jai Gaukang Sibatua Distrik
Pangkajene, ada seorang anak dara malabbiri. Namanya Jamarro Daeng Ngintang. Warga akrab
menyapanya dengan nama Intang. Ibunya dikenal dengan gelar Ammak Sanga. Tettanya
Bernama Baso Palara Daeng Sirua. Ia meninggal dunia saat Intang masih dalam
kandungan. Intang dijuluki anak dara malabbiri karena pesona
kecantikan anak gadis itu menjadi buah bibir masyarakat. Ketenarannya bukan
hanya karena pesona kecantikan, namun ia dikenal sebagai sosok anak yang rajin
dan patuh terhadap orang tua. Setiap hari ia menenun kain sarung. Sayang, nasib Intang tak
seberuntung dengan ketulusannya. "
"Ada apa dengan Intang Kek?"
Walau letih, kakek tua itu
melanjutkan kisahnya,
"Begini Nak. Tabiat Ammak Sanga berbanding
terbalik dengan anaknya. Ia sosok wanita pelit dan tak peduli terhadap nasib
anaknya. Hampir setiap hari Intang tak diberi makan dan minum. Hingga batas
kesabaran Intang pun habis dan berniat menjelma menjadi seekor burung agar
bebas terbang mencari makan tanpa membantah penghinaan yang kerap kali dilontarkan
Ammak Sanga."
La Pahe pun semakin penasaran, sambil
berkata
"Betul Kek, Intang jadi burung?”
“Burungnya pasti cantik ya Kek?"
Kakek tersenyum, kemudian melanjutkan
kisahnya,
"Sebelum jadi burung, ia
menyelesaikan tenunan terakhirnya. Melihat Ammak Sanga tak ada di rumah, ia
membawa tenunan itu ke atas loteng tempat menyimpan padi, istilah Makassarnya pammakkang. Kain itu dbuat sayap.
Setelah selesai Intang berdoa sambil meneteskan air mata agar dirinya diubah
menjadi seekor burung. Seketika Intang berubah menjadi seekor burung yang sangat
cantik."
Intang terbang ke atas pohon lontar. Kicauan
indahnya membuat warga kegirangan mencari sumber suara itu. Betapa kagetnya,
ternyata kicauan itu suara burung yang sangat cantik. Tak kenal tua maupun muda, semua silih
berganti memanjat pohon itu, namun burung
itu lebih cerdik. Tak satu pun berhasil menangkapnya. Selangkah ia
mendaki, maka selangkah pula burung itu terbang ke atas.
Ammak Sanga kembali ke rumah, betapa kagetnya,
ternyata putri dan kain tenunnya tak ditemukan. Rasa bersalah dan ketakutan
berkecamuk di hatinya. Sambil berlari, ia melihat kerumunan warga yang berebut
menangkap burung. Warga kaget bukan kepalang, ternyata burung itu bisa berbicara.
Burung itu pun bernyanyi dalam bahasa Makassar "Inakke mi anne I Jamarro Daeng Ngintang, tani sare kanre allo, tani
sare kanre bangngi (sayalah ini Si Jamarro Daeng Ngintang yang tidak pernah
diberi makan siang maupun malam).Mendengar suara itu, Ammak Sanga langsung
bersujud dan memohon ampun, menyesali semua perbuatannya, sambil membalas
lagunya, "naung maki mae anak, tak
sadiami kanre ta, tak sadiami je'ne bambang ta (turunlah anakku, telah
tersedia nasimu, telah tertutup air panasmu) sambil meneteskan air mata.
Setelah mendengar ucapan Ammak Sanga, burung
itu pun terbang ke seberang kampung yang bernama Kampung Pagang.
Mendengar kisah kakek itu, mata La
Pahe tak berkedip dan semakin penasaran. Kakek itu meneguk suguhan istri
tercinta, lalu lanjut berkisah. Setelah terbang ke kampung Pagang, ternyata
kehadirannya mengundang perhatian warga, namun tak satu pun yang berhasil
menangkapnya. Kabar kehadiran sosok burung yang cantik jelita terdengar ke
telinga Karaeng Pagang Hanisu Puang Sau.
Akibat penasaran Karaeng beserta hulubalangnya menuju tempat burung itu. Satu
persatu hulubalang diminta memanjat pohon itu, namun semuanya gagal. Karaeng sangat tertarik melihat bulu
apatalagi paras wajah burung itu sehingga ia sendiri yang memanjat pohon itu. Alhasil
setiap langkah Karaeng mendaki, maka selangkah
pula burung itu terbang ke bawah, alhasil dengan mudahnya ia menangkap burung
jelita itu..
Perasaan bahagia terpancar di wajah Karaeng. Burung itu pun dibawa ke istana
dan disimpan di dalam sangkar indah berlapis emas. Alkisah terjadi keajaiban di
istana. Setiap sore, semua gentong diisi penuh oleh Ata Karaeng, namun
di pagi hari airnya seketika habis. Kejadian ini berlangsung hingga hari ketiga
sehingga menimbulkan rasa penasaran pada diri Karaeng. Berbekal rasa penasaran yang tinggi, Karaeng menahan kantuk demi
menjawab misteri ini. Betapa terkecutnya, tepat di pertiga malam terdengar
suara gemercik dari arah belakang.
Secara perlahan Karaeng berjalan menuju tempat itu. jantungnya
seakan berhenti berdenyut, bola matanya seketika melihat paras wanita cantik
yang baru saja selesai mandi. Kehadiran Karaeng membuat wanita itu kaget bukan kepalang. Jantungnya seolah
hampir copot pula. Untunglah Karaeng
langsung tersenyum dan berkata lembut kepadanya,
"Engkau tak usah takut kepadaku,
namun berkata jujurlah tentang dirimu, apakah engkau yang selama ini
menghabiskan air di gentongan itu?"
Wanita cantik itu pun menjawab dengan
terbata-bata,
"Betul Karaeng. Sayalah orang yang mengabiskan air itu setiap malam.
Sesungguhnya, akulah burung yang Anda tangkap. Sesungguhnya, aku bukanlah
burung, namun manusia.”
“Tabe, Namaku Jamarro Daeng
Ngintang"
Air matanya menetes deras sambil
menceritakan musabab dirinya menjadi burung. Mendengar kejujuran Intang, Karaeng, semakin jatuh hati kepadanya, Ia
menatapnya lembut lalu mencoba mengungkap diksi untuk Intang.
"Engau sungguh wanita yang mulia.
Kecantikan parasmu sama dengan kelembutan hatimu.”
Engkau akan kuangkat menjadi
permaisuriku." Mendengar perkataan Karaeng, Air mata Intang menetes deras membasai pipi yang
kemerah-merahan.
Sang Karaeng keheranan melihat
tetesan air mata Intang yang mengalir deras tiada henti, lalu bertanya,
Mengapa engkau menangis pada hal aku
ingin mempersuntingmu menjadi permaisuri?"
"Aku menangis karena mengingat Ammak
Sanga, pastilah ia mencariku."
"Untuk apa, engkau mengingat Ammak
Sanga yang menyiksamu?”
“Untuk apa engkau peduli terhadap
orang yang menyengsarakanmu?"
"Ia adalah Ammakku Karaeng,
ia telah mengandung dan membesarkanku. Ia melakukan itu kepadaku karena khilaf
dan sudah menyesalinya. Sebagai seorang anak kewajibanku berbakti
kepadanya."
Mendengar tuturan lembut dan
ketulusan hati Intang, Karaeng semakin
jatuh cinta kepadanya.
Keesokan harinya, Karaeng
memerintahkan para hulubalang mencari Ammak Sanga, namun mereka gagal menjumpainya karena
terhalang oleh sungai panjang. Mendengar keluhan itu, Karaeng mengajak hulubalang, Ata,
dan rakyatnya bergotong royong membangun jembatan. Alkisah jembatan itu
selesai, maka berangkatlah Karaeng
bersama Intang, dan hulubalang setia kerajaan.
Kabar tentang rencana pernikahan Karaeng dengan Intang menyebar ke
pelosok negeri dan akhirnya sampai ke telinga Ammak Sanga. Mendengar kabar itu, ia berlari menuju
kerajaan. Bukan karena bahagia anaknya akan dipersunting seorang bangsawan. Ia
ingin menjumpai Intang sekadar memohon maaf atas dosa dan khilaf. Sambil
berlari ia meneteskan air mata dan terus berdoa, semoga putrinya memberi maaf. Demikian
halnya Intang tak henti-hentinya berdoa, semoga ditakdirkan berjumpa Ammak Sanga.
Tak ada yang mustahil, jika Sang
Pencipta berkehendak, ketika kereta kerajaan melintas di atas jembatan yang
telah dibangun oleh Karaeng, Intang
meminta hulubalang menghentikan laju kereta, lalu meloncat dari kereta dan
memeluk tubuh seorang wanita tua bertubuh kurus kering. Ia memeluk erat
tubuhnya seolah tak ingin melepaskan Sembari berkata "Ammak Sanga, aku adalah Intang, putri Ammak Sanga, maafkan diriku yang telah meninggalkan Ammak
Sanga," Mendengar suara itu, Ia
baru tersadar jika tubuh yang memeluknya adalah putri yang dirindukan." Ia
pun memeluk putrinya sambil memohon maaf.
Karaeng langsung turun
dari kereta, ketika tahu bahwa wanita tua itu adalah Ammak Sanga. Setelah mencium tangannya, Karaeng memboyong Ammak Sanga ke istana. Sesampai di sana, ia bersimpu
dan memohon restu menjadikan dirinya
menantu dan mempersunting Intang menjadi permaisuri dunia dan akhirat, sambil
berkata "Ammak Sanga tinggal
bersama kami, kami membutuhkan Ammak Sanga." Mendengar ucapan itu, air mata bahagia
dan haru mengalir deras di pipinya.
Alkisah pernikahan mereka
dilangsungkan dengan penuh kemeriaan. Semua benda pustaka dikeluarkan dari istana
agar rakyat dapat menyaksikan perhelatan petinggi kerajaan, sekaligus melihat
benda pusaka yang hanya ditampilkan pada hari tertentu. Karaeng
dan rakyatnya sangat bahagia mendapatkan permaisuri cantik jelita berhati
malaikat. Akhirnya mereka membangun keluarga yang bahagia, rakyat pun makmur
dan sentosa dikaruniai pewaris kerajaan yang berhati mulia seperti Sang Karaeng dan permaisurinya. Jembatan
tempat pertemuan Daeng Ngintang dan Ammak Sanga oleh warga sekitar disebut "Jembatan Cinta" karena
jembatan itu mempertemukan hubungan cinta antara anak dan orang tuanya.
Punna mallakko rikaraennu
liliangi pappisangkana, gaukangi passuroangna, siagang haragai tautoanu. Jika engkau takut kepada
Tuhanmu, hindarilah larangannya, kerjakanlah perintahmya, dan hargai orang
tuamu.
Rupama :
metode pewarisan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan secara
lisan
kepada anak-anak di Makassar.
Areng
paddaengang :
nama gelar memakai Daeng
Daeng :
gelar untuk orang yang lebih tua (identik dengan kebangsawanan)
Dara malabbiri : anak gadis cantik dan berbudi
pekerti baik
Dato :
gelar kehormatan untuk kakek
Tetta : Bapak dalam Bahasa
Nakassar
Ammak :
Ibu dalam bahasa Makassar
Karaeng :
Raja atau bangsawan Sulawesi Selatan
Ata
karaeng :
Abdi raja
Pammakkang :
Loteng tempat menyimpan padi pada rumah panggung di Sulawesi
Selatan
Gaukang : kelurahan
Distrik :
kecamatan













