Rabu, 28 Oktober 2026
Selasa, 27 Oktober 2026
Merawat Sumpah Pemuda melalui Wadah Taman Baca Masyarakat
Merawat Sumpah Pemuda melalui Wadah
Taman Baca Masyarakat
Kehadiran
Taman Baca Masyarakat (TBM) di tengah masyarakat mempunyai peran penting dan
strategis dalam merawat Sumpah Pemuda di
erah moderen. Implementasi nilai persatuan dan kesatuan dalam aksi nyata
mencerdaskan masyarakat merupakan wujud semangat Sumpah Pemuda.
Implementasi
nilai-nilai Sumpah Pemuda di TBM diwujudkan melalui kegiatan literasi pada anak
usia dini, pemuda, dan pemberdayaan warga. Peran utama diwujudkan melaui penyediaan akses belajar
seperti perpustakaan, pojok baca atau koleksi buku yang menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar, serta menyediakan sarana belajar digital untuk
menciptakan semangat belajar yang inklusif yang mampu beradaptasi dengan
perkembangan zaman, namun tetap merawat kearifan lokal.
Inklusivitas
dan akses layanan untuk semua tanpa membedakan suku, ras, dan agama di TBM merupakan
wadah membangun semangat persatuan dan kesatuan. Semangat filosofi abbulo sibatang (sebatang bambu)
menumbuhkan persatuan dan kesatuan, gotong royong, dan solidaritas. Filosofi abbulo
sibatang itulah menjadi spirit dasar berjihad di komunitas literasi.
Berawal dari abbulo sibatang membangkitkan siri’ na pacce (rasa
malu dan empati). Rasa empati bangkit dengan melihat anak lebih asyik bermain
gawai dari pada membaca buku.
Gerakan
bersatu untuk literasi bukan sekadar komitmen kolektif yang viral pada momentum
peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Namun, Aksi nyata di
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bersatu untuk negeri melalui gerakan
literasi. Semoga kekuatan kolektif berdampak nyata bagi masyarakat dan sekolah.
Senin, 26 Oktober 2026
Toponimi Kampung Pagang
Hikayat Ulama di Balik Toponimi
Kampung Pagang
Mardiah Daeng Baji
MENGAPA bulu kuduk ini merinding? Sebuah pertanyaan retoris muncul setiap kali mendengar nama Kampung Pagang. Rasa itu pun dialami oleh sanak keluarga. Koneksi emosional senantiasa terhubung dengan kerabat yang berdomisili di luar Kabupaten Pangkep.
Entah mengapa, jika melihat tayangan kampung di media sosial saja menyebabkan mereka semakin semangat berkarya dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi berkonstribusi terhadap kampung halaman. Pulang kampung laksana perindu bagi perantau.
Benar kata pepatah: jangan melihat buku dari sampulnya. Jangan melihat kualitas suatu kampung hanya dengan melihat penampilan dari luar saja. Makna pepatah tersebut bagaikan potret dari Kampung Pagang. Memoriku kembali mengingat masa SMA di tahun 1989. Pertanyaan sangsi pernah diucapkan teman, saat saya turun dari pete-pete (kendaraan umum).
“Apakah ada kampung di seberang sana?” Pertanyaan itu kujawab dengan kuluman senyum. Kesangsian itu wajar karena posisi Kampung Pagang yang berjarak sekisar 2 km dari jalan raya Kampung Maleleng. Secara administratif merupakan bagian wilayah Kelurahan Sibatua, Kecamatan Pangkajene. Masyarakatnya seratus persen muslim. Panorama tambak dan persawahan terbentang luas di sepanjang jalan menuju Kampung Pagang. Bangunan rumah di sekitar jalan pun tak seberapa sehingga memperkuat asumsi bahwa tak ada lagi pemukiman setelah Kampung Maleleng.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kesangsian terhadap eksistensi Kampung Pagang berbalik menjadi ketakjuban. Apresiasi tamu yang berkunjung diungkapkan secara lisan dan ditulis di buku tamu. Lokasi yang cukup jauh dari Kota Pangkajene bukanlah perintang dalam mendorong Pangkep untuk berkompetisi baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Kontribusi Kampung Pagang antara lain terpilih menjadi lokus penilaian Kawasan Menuju Bebas Rokok pada lomba Kabupaten Sehat Tingkat Nasional tahun 2019. Kawasan ini diketuai oleh seorang pemuda, Ibnu Mundzir, S.H. dan dibina langsung oleh Puskesmas Bonto Perak dan Dinas Kesehatan Pangkep.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2023 Kampung Pagang kembali mewakili Kabupaten Pangkep pada lomba PAAREDI (Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan lomba dalam bentuk inovasi Balla Ana’ Muda atau Rumah Anak Muda, komunitas ini diketuai oleh Sudirman Rauf, S.P. dan kelompok PAAREDI diketuai oleh Anshar Ikra, S.E. Alhasil, meraih juara satu Tingkat Provinsi. Kegiatan ini dibina oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Pangkep yang diketuai oleh Hj Nurlita Wulan Purnama Yusran. Sekretariat kegiatan Kawasan Menuju Bebas Rokok dan Balla Ana’ Muda keduanya berdomisili di rumah tokoh masyarakat, Paharuddin Daeng Maroa, S.Sos. beliau merupakan menantu dari Ibnu Hajar Daeng Sitakka. Selanjutnya sekretariat ini dikembangkan menjadi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ibnu Hajar pada tahun 2022.
Kehadiran TBM Ibnu Hajar bertujuan meningkatkan minat literasi masyarakat dan mengalihkan kegemaran anak bermain gawai menjadi gemar berliterasi. Aktivitas literasi awalnya belum berbentuk taman baca. Melalui fasilitas Perpustakaan Ibnu Hajar, pemustaka membaca dan belajar di kolong rumah. Walau dengan sarana dan prasarana sederhana, namun dengan sentuhan seni, semuanya terasa indah. Pesona keindahan dan pelayanan setulus hati menjadi infus motivasi bagi pemustaka dan para relawan literasi.
Gayung bersambut, kata menjawab. Berkat binaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangkep akhirnya terbentuk TBM Ibnu Hajar. Belum setahun beroperasi, TBM Ibnu Hajar mendapatkan apresiasi Taman Baca Terbaik Tingkat Kabupaten Pangkep tahun 2022. Seiring waktu, berkat dahsyatnya kolaborasi keluarga besar dan para pemerhati literasi, akhirnya terbangun gazebo baca di sekitar area taman baca.
Kini TBM Ibnu Hajar bukan sekadar wadah literasi dasar, namun memerankan fungsi inklusi sosial perpustakaan. Taman baca sebagai sentral berbagai kegiatan, seperti sosialisasi budaya lokal Pangkep oleh Forum Anak Saudara Pangkep, pengajian majelis taklim, pelatihan keterampilan pelaku UMKM, public speaking Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Pangkep, Kegiatan TIM Penggerak PKK Pangkep yang dimonitoring oleh TIM Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan.
Tangan terbuka menyambut kolaborasi berbagai pihak tentu berdampak langsung pada keberadaan TBM Ibnu Hajar. Ketua TBM Ibnu Hajar, Mardiah Ibnu Hajar, S.Pd. disarankan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan mengikuti seleksi Penerima Bantuan Pemerintah Bidang (BANPEM) Literasi di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hasilnya, TBM Ibnu Hajar terpilih sebagai salah satu penerima apresiasi BANPEM Tahun 2024.
Hiruk pikuk kegiatan di TBM Ibnu Hajar semakin menambah rasa penasaran para pengunjung dari luar daerah terhadap makna Kampung Pagang. Mereka berusaha menemukan makna kata “Pagang” di KBBI maupun Kamus Bahasa Makassar, namun tetap saja gagal. Rasa penasaran mencapai titik klimaks ketika qariah Ma’rifa Julianty Rahman, S.E.,S.Pd., asal Kampung Pagang beberapa kali meraih juara 1 STQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan menjadi perwakilan Sulawesi Selatan di Tingkat Nasional. Tahun 2026 berhasil meraih juara 1 kategori Remaja Putri Tingkat Nasional pada ajang MTQ Nasional XXXI pada tanggal 11 s.d. 20 September 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Betul kata para pencinta kearifan lokal, arti sebuah nama kampung lebih dari sekadar identitas. Nama yang melekat pada sebuah kampung berfungsi sebagai pelestarian kearifan lokal, serta memudahkan masyarakat dalam mengenal dan menunjuk lokasi suatu tempat secara geografis. Berdasarkan aspek agama, kebudayaan, dan sejarah, beberapa pemberian nama kampung mengandung unsur doa dan harapan yang lebih baik, seperti keberkahan, kemakmuran atau keselamatan masyarakat. Sama seperti penamaan diri manusia atau antroponimi, nama untuk wilayah juga merupakan tanda konvensional (kesepakatan) dalam hal pengidentifikasian sosial. Toponimi (nama tempat) memiliki hubungan erat dengan kondisi fisik geografis, masyarakat yang menghuninya, dan kebudayaan yang tumbuh di wilayah tersebut.
Asimilasi budaya Islam memengaruhi pemberian toponimi Kampung Pagang. Ungkapan tersebut senada dengan sumber tutur seorang tokoh masyarakat Pagang, putra dari Gallarang, Pagang H Mashud Daeng Palallo bin H Saloko Daeng Patonang. Beliau bernama Ibnu Hajar Mashud Daeng Sitakka. Semasa hidup pernah menceritakan bahwa secara etimologi penamaan Pagang berasal dari kata pagama. Pa dalam bahasa Makassar adalah imbuhan yang membentuk kata benda. Pa sebagai orang yang melakukan.
Pagama bermakna orang yang beragama (senantiasa melaksanakan ajaran agama). Konon pada zaman Belanda, penjajah sulit mengucapkan kata pagama dan lidahnya lebih beradaptasi dengan kata pagang. Atas dasar tersebut, kata pagama disepakati menjadi Pagang. Begitulah hingga penamaan Kampung Pagang abadi hingga saat ini. Kampung atau kampong, pa’rasangan dalam bahasa Makassar merujuk pada permukiman atau lingkungan yang dinahkodai oleh seorang Gallarang kala itu
Filosofi Pagama pada penamaan Kampung Pagang terpancar melalui aktivitas tokoh agama dan masyarakat Pagang. Kampung Pagang bukan sekadar tempat belajar mengaji bagi warga kampung, namun warga sekitar seperti Maleleng, Bonto Jai, Bonto Panno, dan Bonto Manai kala itu memperdalam bacaan Alquran setelah tamat mengaji kampung dalam bentuk aktivitas assara baca guna memperdalam ilmu tajwid dan pemahaman terhadap makna Alquran yang dikenal dengan nama abbattuang (mengartikan). Sosok guru bernama Abu Hurairah Daeng Ringgi bin H Saloko Daeng Patonang, familiar dengan gelar Guru Buha.
Spirit religius di balik penamaan Kampung Pagang dipertegas oleh Prof. Dr. H. Basir Syam, M Ag. , Guru Besar Universitas Hasanuddin. Sosok beliau dikenal sebagai pecinta ulama. Kesibukan sebagai Guru Besar tak menyurutkan semangat mengumpulkan catatan kisah-kisah para ulama yang ditelitinya sejak tahun 1960-an, terutama di kampung halamannya di Pangkep. Sumber tutur dari beliau melalui WhatsApp pada 25 Januari 2020. Isi percakapan awal menuturkan: Saya M. Basir Syam bin Hj. Mutiara Daeng Tawero binti AGH. Abdullah bin AGH. Abdurrahman bin AGH. Sibbawahi bin Sulthan Abdul Razaq Jalaluddin (Raja Bone ke-22).
Menurut sumber tutur Prof. Basir Syam, asal muasal ulama di Kampung Pagang dapat dilihat pada garis keturunan AGH Abd. Majid Daeng Paratte bin Tuan Muhammad bin Pinra Kati Citta Marola (Kaci) anak Raja Palanro Barru. Nenek Kaci menjadi sosok inspiratif karena jasadnya menghilang pada saat dikuburkan. Kisah beliau menjadi santapan cerita religius keluarga besar. Menurut sumber tutur H Mashud Daeng Palallo, amalan semasa hidupnya antara lain setelah salat Subuh ia akan terus berzikir hingga masuk waktu salat Duha. Nenek Kaci sebelum menetap di Kampung Pagang, sebelumnya bermukim di Mekkah dan ingin sekali meninggal dunia di tanah suci.
Suatu hari putra beliau menyarankan agar Nenek Kaci pulang ke Indonesia, sembari berkata “Ammotere maki ri toddanga Amma, manna antu rawaki mate, Insya Allah rateji jasad alusutta ri Butta Makkah.” Harfiahnya berarti: “Pulanglah ke tanah air Mama, sekalipun engkau meninggal di sana, Insya Allah jasad halusmu tetap di Tanah Mekkah.” Mendengar saran putranya, akhirnya beliau pun kembali ke Indonesia dan bermukim di Kampung Pagang. Doa dalam bentuk ungkapan putranya diyakini menjadi kenyataan saat jasad beliau seketika menghilang pada saat dimasukkan ke liang lahat.
Masa sekolah dasar mengingatkan saya akan tradisi tabuh gendang di bulan suci Ramadan. Kenangan itu masih tersimpan indah di memori. Menurut riwayat orang tua, dulu di zaman kolonialkalau masuk waktu bulan Ramadan, beduk lebih dahulu ditabuh di Pagang sebagai petanda awal bulan puasa karena di situlah ulama besar yang paling dituakan, AGH Sibbawahi. Beliau adalah kakek ulama besar di Pagang, Baru-Baru, Kabba, Rappokadang, Japing-Japing, dan berbagai kampung-kampung lainnya yang berdekatan. AGH Sibbawahi dikenal juga dengan nama Ibarakka Daeng Malabbang. Sibbawahi adalah seorang wali Allah, anak Mangkau E ri Bone yang dikirim belajar kepada Sayed Bojo di Barru, lalu menikah dengan Pinra Kati Citta Marola (Ikaco) di Palanro Barru.
Narasi tutur Prof Basir Syam hampir sama dengan narasi tutur Ibnu Hajar Daeng Sitakka. Menurut penuturan beliau, sebelum H. Mashud Daeng Palallo menjadi Gallarang Pagang, Kare Pagang terakhir adalah Tuan Muda. Akibat Tuan Muda berangkat ke Mekkah mengikuti saudaranya Tuan Muhammad dan Tuan Makka, maka digantikan oleh H. Mashud Daeng Palallo. Menurut versi Ibnu Hajar Daeng Sitakka, sebelum H. Mashud Daeng Pallallo, Gallarang Pagang bernama H. Muda. Setelah beliau hijrah ke Kota Makassar barulah H Mashud Daeng Palallo menjadi Gallarang Pagang. Hal senada pernah dituturkan oleh H. Zainuddin, putra dari H. Muda. Singkat cerita Tuan Muhammad dan Tuan Makkah Kembali ke Pagang, sementara itu Tuan Muda meninggal dunia di Mekkah.
Anugerah pemberian nama Kampung Pagang merupakan hadiah istimewa. Berkah nama itu dinikmati sepanjang masa. Nilai-nilai religius yang ditanamakan secara turun temurun menjadi kausa lahirnya generasi pencinta Alquran dan empati terhadap sesama. Penamaan konsep ‘manusia berkah’ menjadi pelita sepanjang hayat. Hamparan surga di balik toponimi Kampung Pagang dapat digapai dengan istiqamah menebar kebaikan kepada sesama. Hal ini mengingatkan hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath yang artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. []
Salamakki lino akhirat, aamiin
-
Pembelajaran Ikhlas dalam Bekerja Tanpa Pamrih dari Sosok Seorang Bunda dan Guru Tercinta Berprofesi sebagai guru tak pernah terlinta...
-
MEWUJUDKAN GERAKAN MAKASSAR'TA TIDAK RANTASA (MTR) MELALUI REVITALISASI LORONG 309 DI RW.02 KELURAHAN MATTOANGING KECAMATAN M...












