Rabu, 28 Oktober 2026
BUTTA MALABBIRIKKU: RUPAMA JEMBATAN CINTA
RUPAMA JEMBATAN CINTA
Rupama
JEMBATAN CINTA Mardiah Daeng Baji
|
H |
empasan ombak berkejaran mengikuti irama sang bayu.
Daur nyiur melambai-lambai seakan menyambut kehadiran para nelayan. Mangrove
tumbuh subur di bantaran sungai. Tambak berbaris rapih di balik mangrove. Senyuman
sang surya di selah pepohonan semakin menambah pesona Jembatan Cinta.
Hiruk pikuk nelayan mengadu untung. Alunan suara transaksi
jual beli ikan di pagi hari bagaikan gemercik asmara backsound pementasan
sandiwara rakyat. Suasana persaudaran antarpemburu ikan segar menjadi perindu
kembali bersua. Rasa yang sama pun dialami oleh sosok pemenang Festival Dara Daeng kategoti
Daeng Pangkajene dan Kepulauan. Ia Bernama lengkap Paharuddin Apala,
namun warga kampung Pagang menyapanya dengan julukan La Pahe dengan areng paddaengang Daeng Maroa.
Kehadiran liburan panjang bagai
pelepas dahaga di tengah terik matahari. Kerinduan terhadap riuh mahajana
berdengung kencang di kuping. Pegari keindahan panorama di sekitar jembatan itu
terbayang di pelupuk mata. Hasrat bersua dengan Jembatan Cinta tak terbendung lagi.
Riang gembira La Pahe menunaikan
titah Sang Bunda berburu ikan segar di Jembatan Cinta. Sepanjang jalan, bola
matanya berbinar. Ingin rasanya secepat kilat berada di tempat itu, Setelah
tiba, seketika ia menatap di kejauhan sana, seorang nelayan dengan tubuh
dengkik terus berjuang mengayun sampan yang tampak usang. Walau masih pagi
hari, peluh menetes di pipinya. La Pahe spontan bergumam "Kasihan sekali,
mengapa ia masih bekerja padahal usia sudah senja, apa tak punya anak dan sanak
keluarga yang dapat menyantuninya?"
Menyambut kedatangan kakek itu, La
Pahe menghapiri Sang Kakek, lalu mengangkat keranjang ikan yang isinya tak
seberapa. Setelah melapor kepada Daeng
Madong, mandor ikan di lokasi itu, tanpa pikir panjang, ia langsung
memborong ikan tersebut. Sesampai di rumah ia disemprot marah, ternyata isi
keranjang bukanlah pesanan Bundanya. La
Pahe pun menarik napas panjang lalu berucap "Dengar dulu Bund, ada kisah pilu
di balik ikan ini, pemilik ikan ini adalah nelayan tua renta.” Sembari
menghapus tetesan air mata di pipi, La
Pahe berusaha meyakinkan dengan suara
lirih “Saya iba Bund sehingga langsung memborongnya."
Mendengar penjelasan itu, sontak
kemarahan Bunda berbalik menjadi gundah gulana. Ia menatap anaknya dalam
sembari berpetuah.
"Lihatlah, betapa banyak orang yang
kurang beruntung di sekitar kita, makanya kamu harus bersyukur dan tak boleh
menuntut lebih dari orang tua!
“Lihatlah Nak, begitulah orang tua
berjuang demi membahagiakan anaknya!”
Datomu
pernah berkata “I lalangi basa, i lalang tongi kalotoro.” Mendengar
ungkapan yang asing bagi La Pahe, spontanitas ia bertanya, “Maknanya apa Bunda?”
Bunda pun menjawab, “Makna pepatah ‘Di dalam basah, di dalam pula kering.’ Filosofinya adalah simbol orang tua yang tanpa
pamrih berjuang mencari nafkah sehingga terkadang pakaian
basah yang melekat di badan kering tanpa dijemur. Ia lebih mementingkan sanak
keluarga daripada dirinya sendiri. Untuk itu, sayangi orang tuamu, patuh, dan
taat terhadap nasihatnya!"
Mendengar wejangan Bunda, La Pahe tak
mampu mengucap kata. Air mata menetes deras. Ia memeluk erat tubuh Bunda seakan
tak ingin melepaskannya.
"Maafkan La Pahe selama ini Bunda,
saya terkadang melukai perasaan Bunda.”
“Saya suka menuntut lebih, padahal sebagai
anak belum mampu membalas pengorbanan Tetta dan Bunda," ucapnya,
sembari memegang jemari Bunda yang mengelus-elus kepalanya.
"Sudahlah Nak, Bunda telah
memaafkan anak-anak, jauh sebelum mereka minta maaf. Bunda sadar kesuksesan
anak-anak berasal dari rida orang tuanya. Intinya sekarang, kalian harus jadi
anak yang patuh terhadap ajaran agama, orang tua, dan sayang kepada sesama!"
“Nah, sekarang kamu istirahat dulu
Nak!”
La Pahe menuju kamar, lalu merebahkan
tubuh pada kasur empuk. Ia mencoba memejamkan mata, namun tak mampu. Pikirannya
terus tertuju kepada kakek nelayan itu. Spontan rasa penasaran La Pahe bangkit.
Ingin rasanya berjumpa dengan Pak Tua itu, tetapi tak tahu alamat rumahnya. Asyik
mengerutkan dahi, seketika, ia punya ide menanyakan alamatnya pada warga yang
berada di sekitar jembatan cinta. Setelah mendapat izin Bunda, ia pun
berangkat. Betapa bahagianya karena warga yang dijumpai langsung memberi alamat
yang diinginkan. Bukan hanya itu, ia pun memperkenalkan bahwa kakaek tua itu Bernama Daeng Gassing.
Tanpa pikir panjang La Pahe melajukan motor menuju rumah Daeng Gassing yang
terletak di Kampung Bonto Panno.
La Pahe tercengang. Berdiri bagaikan
patung menyaksikan dari luar lorong pemandangan di depan mata. Rumah gubuk yang
hampir roboh, namun penghuninya amat damai dan bahagia. Walau dengan langkah berat, ia memasuki gubuk
itu. Setelah megucap salam, ia pun bertanya kepada sosok pria setengah baya,
tentang keberadaan Daeng Gassing. La Pahe disilakan masuk. Melihat sosok pemuda yang samar-samar pernah dikenal
menyebabkan Daeng Gassing sontak terbelalak,
lalu menatap La Pahe keheranan.
"Kamu yang borong ikan Kakek?”
“Ada apa?”
“Kenapa ke rumah Kakek?”
"Perkenalkan Kek, nama saya
Paharuddin Apala, tapi orang di kampung lebih akrab menyapaku La Pahe atau Daeng Maroa.”
“Betul Kek, sayalah yang borong ikan Kakek
tadi pagi. Kehadiran saya di sini karena saya salut sama Kakek, salut sama
semangat Kakek.”
“ Saya mau belajar cara kerja ikhlas
dari Kakek."
Mendengar jawaban La Pahe, Daeng
Gassing hanya bisa tersipu malu, lalu mengangkat tangan kanan sebagai petanda permohonan
menikmati suguhan singkong rebus buatan putrinya.
Sambil menemani La Pahe, kakek itu
bercerita banyak tentang pekerjaan yang ditekuninya di sekitar Jembatan Cinta.
Mendengar kata Jembatan Cinta, rasa
penasaran La Pahe bangkit.
“Kek, mengapa jembatan itu disebut
Jembatan Cinta, pada hal tak pernah saya lihat sepasang kekasih di sana?"
Sambil mengerutkan dahi, Sang Kakek
menceritakan kisah penamaan jembatan itu.
"Menurut cerita yang saya
dengar, pada zaman dahulu di Kampung Bonto Jai Gaukang Sibatua Distrik
Pangkajene, ada seorang anak dara malabbiri. Namanya Jamarro Daeng Ngintang. Warga akrab
menyapanya dengan nama Intang. Ibunya dikenal dengan gelar Ammak Sanga. Tettanya
Bernama Baso Palara Daeng Sirua. Ia meninggal dunia saat Intang masih dalam
kandungan. Intang dijuluki anak dara malabbiri karena pesona
kecantikan anak gadis itu menjadi buah bibir masyarakat. Ketenarannya bukan
hanya karena pesona kecantikan, namun ia dikenal sebagai sosok anak yang rajin
dan patuh terhadap orang tua. Setiap hari ia menenun kain sarung. Sayang, nasib Intang tak
seberuntung dengan ketulusannya. "
"Ada apa dengan Intang Kek?"
Walau letih, kakek tua itu
melanjutkan kisahnya,
"Begini Nak. Tabiat Ammak Sanga berbanding
terbalik dengan anaknya. Ia sosok wanita pelit dan tak peduli terhadap nasib
anaknya. Hampir setiap hari Intang tak diberi makan dan minum. Hingga batas
kesabaran Intang pun habis dan berniat menjelma menjadi seekor burung agar
bebas terbang mencari makan tanpa membantah penghinaan yang kerap kali dilontarkan
Ammak Sanga."
La Pahe pun semakin penasaran, sambil
berkata
"Betul Kek, Intang jadi burung?”
“Burungnya pasti cantik ya Kek?"
Kakek tersenyum, kemudian melanjutkan
kisahnya,
"Sebelum jadi burung, ia
menyelesaikan tenunan terakhirnya. Melihat Ammak Sanga tak ada di rumah, ia
membawa tenunan itu ke atas loteng tempat menyimpan padi, istilah Makassarnya pammakkang. Kain itu dbuat sayap.
Setelah selesai Intang berdoa sambil meneteskan air mata agar dirinya diubah
menjadi seekor burung. Seketika Intang berubah menjadi seekor burung yang sangat
cantik."
Intang terbang ke atas pohon lontar. Kicauan
indahnya membuat warga kegirangan mencari sumber suara itu. Betapa kagetnya,
ternyata kicauan itu suara burung yang sangat cantik. Tak kenal tua maupun muda, semua silih
berganti memanjat pohon itu, namun burung
itu lebih cerdik. Tak satu pun berhasil menangkapnya. Selangkah ia
mendaki, maka selangkah pula burung itu terbang ke atas.
Ammak Sanga kembali ke rumah, betapa kagetnya,
ternyata putri dan kain tenunnya tak ditemukan. Rasa bersalah dan ketakutan
berkecamuk di hatinya. Sambil berlari, ia melihat kerumunan warga yang berebut
menangkap burung. Warga kaget bukan kepalang, ternyata burung itu bisa berbicara.
Burung itu pun bernyanyi dalam bahasa Makassar "Inakke mi anne I Jamarro Daeng Ngintang, tani sare kanre allo, tani
sare kanre bangngi (sayalah ini Si Jamarro Daeng Ngintang yang tidak pernah
diberi makan siang maupun malam).Mendengar suara itu, Ammak Sanga langsung
bersujud dan memohon ampun, menyesali semua perbuatannya, sambil membalas
lagunya, "naung maki mae anak, tak
sadiami kanre ta, tak sadiami je'ne bambang ta (turunlah anakku, telah
tersedia nasimu, telah tertutup air panasmu) sambil meneteskan air mata.
Setelah mendengar ucapan Ammak Sanga, burung
itu pun terbang ke seberang kampung yang bernama Kampung Pagang.
Mendengar kisah kakek itu, mata La
Pahe tak berkedip dan semakin penasaran. Kakek itu meneguk suguhan istri
tercinta, lalu lanjut berkisah. Setelah terbang ke kampung Pagang, ternyata
kehadirannya mengundang perhatian warga, namun tak satu pun yang berhasil
menangkapnya. Kabar kehadiran sosok burung yang cantik jelita terdengar ke
telinga Karaeng Pagang Hanisu Puang Sau.
Akibat penasaran Karaeng beserta hulubalangnya menuju tempat burung itu. Satu
persatu hulubalang diminta memanjat pohon itu, namun semuanya gagal. Karaeng sangat tertarik melihat bulu
apatalagi paras wajah burung itu sehingga ia sendiri yang memanjat pohon itu. Alhasil
setiap langkah Karaeng mendaki, maka selangkah
pula burung itu terbang ke bawah, alhasil dengan mudahnya ia menangkap burung
jelita itu..
Perasaan bahagia terpancar di wajah Karaeng. Burung itu pun dibawa ke istana
dan disimpan di dalam sangkar indah berlapis emas. Alkisah terjadi keajaiban di
istana. Setiap sore, semua gentong diisi penuh oleh Ata Karaeng, namun
di pagi hari airnya seketika habis. Kejadian ini berlangsung hingga hari ketiga
sehingga menimbulkan rasa penasaran pada diri Karaeng. Berbekal rasa penasaran yang tinggi, Karaeng menahan kantuk demi
menjawab misteri ini. Betapa terkecutnya, tepat di pertiga malam terdengar
suara gemercik dari arah belakang.
Secara perlahan Karaeng berjalan menuju tempat itu. jantungnya
seakan berhenti berdenyut, bola matanya seketika melihat paras wanita cantik
yang baru saja selesai mandi. Kehadiran Karaeng membuat wanita itu kaget bukan kepalang. Jantungnya seolah
hampir copot pula. Untunglah Karaeng
langsung tersenyum dan berkata lembut kepadanya,
"Engkau tak usah takut kepadaku,
namun berkata jujurlah tentang dirimu, apakah engkau yang selama ini
menghabiskan air di gentongan itu?"
Wanita cantik itu pun menjawab dengan
terbata-bata,
"Betul Karaeng. Sayalah orang yang mengabiskan air itu setiap malam.
Sesungguhnya, akulah burung yang Anda tangkap. Sesungguhnya, aku bukanlah
burung, namun manusia.”
“Tabe, Namaku Jamarro Daeng
Ngintang"
Air matanya menetes deras sambil
menceritakan musabab dirinya menjadi burung. Mendengar kejujuran Intang, Karaeng, semakin jatuh hati kepadanya, Ia
menatapnya lembut lalu mencoba mengungkap diksi untuk Intang.
"Engau sungguh wanita yang mulia.
Kecantikan parasmu sama dengan kelembutan hatimu.”
Engkau akan kuangkat menjadi
permaisuriku." Mendengar perkataan Karaeng, Air mata Intang menetes deras membasai pipi yang
kemerah-merahan.
Sang Karaeng keheranan melihat
tetesan air mata Intang yang mengalir deras tiada henti, lalu bertanya,
Mengapa engkau menangis pada hal aku
ingin mempersuntingmu menjadi permaisuri?"
"Aku menangis karena mengingat Ammak
Sanga, pastilah ia mencariku."
"Untuk apa, engkau mengingat Ammak
Sanga yang menyiksamu?”
“Untuk apa engkau peduli terhadap
orang yang menyengsarakanmu?"
"Ia adalah Ammakku Karaeng,
ia telah mengandung dan membesarkanku. Ia melakukan itu kepadaku karena khilaf
dan sudah menyesalinya. Sebagai seorang anak kewajibanku berbakti
kepadanya."
Mendengar tuturan lembut dan
ketulusan hati Intang, Karaeng semakin
jatuh cinta kepadanya.
Keesokan harinya, Karaeng
memerintahkan para hulubalang mencari Ammak Sanga, namun mereka gagal menjumpainya karena
terhalang oleh sungai panjang. Mendengar keluhan itu, Karaeng mengajak hulubalang, Ata,
dan rakyatnya bergotong royong membangun jembatan. Alkisah jembatan itu
selesai, maka berangkatlah Karaeng
bersama Intang, dan hulubalang setia kerajaan.
Kabar tentang rencana pernikahan Karaeng dengan Intang menyebar ke
pelosok negeri dan akhirnya sampai ke telinga Ammak Sanga. Mendengar kabar itu, ia berlari menuju
kerajaan. Bukan karena bahagia anaknya akan dipersunting seorang bangsawan. Ia
ingin menjumpai Intang sekadar memohon maaf atas dosa dan khilaf. Sambil
berlari ia meneteskan air mata dan terus berdoa, semoga putrinya memberi maaf. Demikian
halnya Intang tak henti-hentinya berdoa, semoga ditakdirkan berjumpa Ammak Sanga.
Tak ada yang mustahil, jika Sang
Pencipta berkehendak, ketika kereta kerajaan melintas di atas jembatan yang
telah dibangun oleh Karaeng, Intang
meminta hulubalang menghentikan laju kereta, lalu meloncat dari kereta dan
memeluk tubuh seorang wanita tua bertubuh kurus kering. Ia memeluk erat
tubuhnya seolah tak ingin melepaskan Sembari berkata "Ammak Sanga, aku adalah Intang, putri Ammak Sanga, maafkan diriku yang telah meninggalkan Ammak
Sanga," Mendengar suara itu, Ia
baru tersadar jika tubuh yang memeluknya adalah putri yang dirindukan." Ia
pun memeluk putrinya sambil memohon maaf.
Karaeng langsung turun
dari kereta, ketika tahu bahwa wanita tua itu adalah Ammak Sanga. Setelah mencium tangannya, Karaeng memboyong Ammak Sanga ke istana. Sesampai di sana, ia bersimpu
dan memohon restu menjadikan dirinya
menantu dan mempersunting Intang menjadi permaisuri dunia dan akhirat, sambil
berkata "Ammak Sanga tinggal
bersama kami, kami membutuhkan Ammak Sanga." Mendengar ucapan itu, air mata bahagia
dan haru mengalir deras di pipinya.
Alkisah pernikahan mereka
dilangsungkan dengan penuh kemeriaan. Semua benda pustaka dikeluarkan dari istana
agar rakyat dapat menyaksikan perhelatan petinggi kerajaan, sekaligus melihat
benda pusaka yang hanya ditampilkan pada hari tertentu. Karaeng
dan rakyatnya sangat bahagia mendapatkan permaisuri cantik jelita berhati
malaikat. Akhirnya mereka membangun keluarga yang bahagia, rakyat pun makmur
dan sentosa dikaruniai pewaris kerajaan yang berhati mulia seperti Sang Karaeng dan permaisurinya. Jembatan
tempat pertemuan Daeng Ngintang dan Ammak Sanga oleh warga sekitar disebut "Jembatan Cinta" karena
jembatan itu mempertemukan hubungan cinta antara anak dan orang tuanya.
Punna mallakko rikaraennu
liliangi pappisangkana, gaukangi passuroangna, siagang haragai tautoanu. Jika engkau takut kepada
Tuhanmu, hindarilah larangannya, kerjakanlah perintahmya, dan hargai orang
tuamu.
Rupama :
metode pewarisan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan secara
lisan
kepada anak-anak di Makassar.
Areng
paddaengang :
nama gelar memakai Daeng
Daeng :
gelar untuk orang yang lebih tua (identik dengan kebangsawanan)
Dara malabbiri : anak gadis cantik dan berbudi
pekerti baik
Dato :
gelar kehormatan untuk kakek
Tetta : Bapak dalam Bahasa
Nakassar
Ammak :
Ibu dalam bahasa Makassar
Karaeng :
Raja atau bangsawan Sulawesi Selatan
Ata
karaeng :
Abdi raja
Pammakkang :
Loteng tempat menyimpan padi pada rumah panggung di Sulawesi
Selatan
Gaukang : kelurahan
Distrik :
kecamatan
Selasa, 27 Oktober 2026
Merawat Sumpah Pemuda melalui Wadah Taman Baca Masyarakat
Merawat Sumpah Pemuda melalui Wadah
Taman Baca Masyarakat
Kehadiran
Taman Baca Masyarakat (TBM) di tengah masyarakat mempunyai peran penting dan
strategis dalam merawat Sumpah Pemuda di
erah moderen. Implementasi nilai persatuan dan kesatuan dalam aksi nyata
mencerdaskan masyarakat merupakan wujud semangat Sumpah Pemuda.
Implementasi
nilai-nilai Sumpah Pemuda di TBM diwujudkan melalui kegiatan literasi pada anak
usia dini, pemuda, dan pemberdayaan warga. Peran utama diwujudkan melaui penyediaan akses belajar
seperti perpustakaan, pojok baca atau koleksi buku yang menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar, serta menyediakan sarana belajar digital untuk
menciptakan semangat belajar yang inklusif yang mampu beradaptasi dengan
perkembangan zaman, namun tetap merawat kearifan lokal.
Inklusivitas
dan akses layanan untuk semua tanpa membedakan suku, ras, dan agama di TBM merupakan
wadah membangun semangat persatuan dan kesatuan. Semangat filosofi abbulo sibatang (sebatang bambu)
menumbuhkan persatuan dan kesatuan, gotong royong, dan solidaritas. Filosofi abbulo
sibatang itulah menjadi spirit dasar berjihad di komunitas literasi.
Berawal dari abbulo sibatang membangkitkan siri’ na pacce (rasa
malu dan empati). Rasa empati bangkit dengan melihat anak lebih asyik bermain
gawai dari pada membaca buku.
Gerakan
bersatu untuk literasi bukan sekadar komitmen kolektif yang viral pada momentum
peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Namun, Aksi nyata di
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bersatu untuk negeri melalui gerakan
literasi. Semoga kekuatan kolektif berdampak nyata bagi masyarakat dan sekolah.
Senin, 26 Oktober 2026
Toponimi Kampung Pagang
Hikayat Ulama di Balik Toponimi
Kampung Pagang
Mardiah Daeng Baji
MENGAPA bulu kuduk ini merinding? Sebuah pertanyaan retoris muncul setiap kali mendengar nama Kampung Pagang. Rasa itu pun dialami oleh sanak keluarga. Koneksi emosional senantiasa terhubung dengan kerabat yang berdomisili di luar Kabupaten Pangkep.
Entah mengapa, jika melihat tayangan kampung di media sosial saja menyebabkan mereka semakin semangat berkarya dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi berkonstribusi terhadap kampung halaman. Pulang kampung laksana perindu bagi perantau.
Benar kata pepatah: jangan melihat buku dari sampulnya. Jangan melihat kualitas suatu kampung hanya dengan melihat penampilan dari luar saja. Makna pepatah tersebut bagaikan potret dari Kampung Pagang. Memoriku kembali mengingat masa SMA di tahun 1989. Pertanyaan sangsi pernah diucapkan teman, saat saya turun dari pete-pete (kendaraan umum).
“Apakah ada kampung di seberang sana?” Pertanyaan itu kujawab dengan kuluman senyum. Kesangsian itu wajar karena posisi Kampung Pagang yang berjarak sekisar 2 km dari jalan raya Kampung Maleleng. Secara administratif merupakan bagian wilayah Kelurahan Sibatua, Kecamatan Pangkajene. Masyarakatnya seratus persen muslim. Panorama tambak dan persawahan terbentang luas di sepanjang jalan menuju Kampung Pagang. Bangunan rumah di sekitar jalan pun tak seberapa sehingga memperkuat asumsi bahwa tak ada lagi pemukiman setelah Kampung Maleleng.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kesangsian terhadap eksistensi Kampung Pagang berbalik menjadi ketakjuban. Apresiasi tamu yang berkunjung diungkapkan secara lisan dan ditulis di buku tamu. Lokasi yang cukup jauh dari Kota Pangkajene bukanlah perintang dalam mendorong Pangkep untuk berkompetisi baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Kontribusi Kampung Pagang antara lain terpilih menjadi lokus penilaian Kawasan Menuju Bebas Rokok pada lomba Kabupaten Sehat Tingkat Nasional tahun 2019. Kawasan ini diketuai oleh seorang pemuda, Ibnu Mundzir, S.H. dan dibina langsung oleh Puskesmas Bonto Perak dan Dinas Kesehatan Pangkep.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2023 Kampung Pagang kembali mewakili Kabupaten Pangkep pada lomba PAAREDI (Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan lomba dalam bentuk inovasi Balla Ana’ Muda atau Rumah Anak Muda, komunitas ini diketuai oleh Sudirman Rauf, S.P. dan kelompok PAAREDI diketuai oleh Anshar Ikra, S.E. Alhasil, meraih juara satu Tingkat Provinsi. Kegiatan ini dibina oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Pangkep yang diketuai oleh Hj Nurlita Wulan Purnama Yusran. Sekretariat kegiatan Kawasan Menuju Bebas Rokok dan Balla Ana’ Muda keduanya berdomisili di rumah tokoh masyarakat, Paharuddin Daeng Maroa, S.Sos. beliau merupakan menantu dari Ibnu Hajar Daeng Sitakka. Selanjutnya sekretariat ini dikembangkan menjadi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ibnu Hajar pada tahun 2022.
Kehadiran TBM Ibnu Hajar bertujuan meningkatkan minat literasi masyarakat dan mengalihkan kegemaran anak bermain gawai menjadi gemar berliterasi. Aktivitas literasi awalnya belum berbentuk taman baca. Melalui fasilitas Perpustakaan Ibnu Hajar, pemustaka membaca dan belajar di kolong rumah. Walau dengan sarana dan prasarana sederhana, namun dengan sentuhan seni, semuanya terasa indah. Pesona keindahan dan pelayanan setulus hati menjadi infus motivasi bagi pemustaka dan para relawan literasi.
Gayung bersambut, kata menjawab. Berkat binaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangkep akhirnya terbentuk TBM Ibnu Hajar. Belum setahun beroperasi, TBM Ibnu Hajar mendapatkan apresiasi Taman Baca Terbaik Tingkat Kabupaten Pangkep tahun 2022. Seiring waktu, berkat dahsyatnya kolaborasi keluarga besar dan para pemerhati literasi, akhirnya terbangun gazebo baca di sekitar area taman baca.
Kini TBM Ibnu Hajar bukan sekadar wadah literasi dasar, namun memerankan fungsi inklusi sosial perpustakaan. Taman baca sebagai sentral berbagai kegiatan, seperti sosialisasi budaya lokal Pangkep oleh Forum Anak Saudara Pangkep, pengajian majelis taklim, pelatihan keterampilan pelaku UMKM, public speaking Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Pangkep, Kegiatan TIM Penggerak PKK Pangkep yang dimonitoring oleh TIM Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan.
Tangan terbuka menyambut kolaborasi berbagai pihak tentu berdampak langsung pada keberadaan TBM Ibnu Hajar. Ketua TBM Ibnu Hajar, Mardiah Ibnu Hajar, S.Pd. disarankan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan mengikuti seleksi Penerima Bantuan Pemerintah Bidang (BANPEM) Literasi di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hasilnya, TBM Ibnu Hajar terpilih sebagai salah satu penerima apresiasi BANPEM Tahun 2024.
Hiruk pikuk kegiatan di TBM Ibnu Hajar semakin menambah rasa penasaran para pengunjung dari luar daerah terhadap makna Kampung Pagang. Mereka berusaha menemukan makna kata “Pagang” di KBBI maupun Kamus Bahasa Makassar, namun tetap saja gagal. Rasa penasaran mencapai titik klimaks ketika qariah Ma’rifa Julianty Rahman, S.E.,S.Pd., asal Kampung Pagang beberapa kali meraih juara 1 STQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan menjadi perwakilan Sulawesi Selatan di Tingkat Nasional. Tahun 2026 berhasil meraih juara 1 kategori Remaja Putri Tingkat Nasional pada ajang MTQ Nasional XXXI pada tanggal 11 s.d. 20 September 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Betul kata para pencinta kearifan lokal, arti sebuah nama kampung lebih dari sekadar identitas. Nama yang melekat pada sebuah kampung berfungsi sebagai pelestarian kearifan lokal, serta memudahkan masyarakat dalam mengenal dan menunjuk lokasi suatu tempat secara geografis. Berdasarkan aspek agama, kebudayaan, dan sejarah, beberapa pemberian nama kampung mengandung unsur doa dan harapan yang lebih baik, seperti keberkahan, kemakmuran atau keselamatan masyarakat. Sama seperti penamaan diri manusia atau antroponimi, nama untuk wilayah juga merupakan tanda konvensional (kesepakatan) dalam hal pengidentifikasian sosial. Toponimi (nama tempat) memiliki hubungan erat dengan kondisi fisik geografis, masyarakat yang menghuninya, dan kebudayaan yang tumbuh di wilayah tersebut.
Asimilasi budaya Islam memengaruhi pemberian toponimi Kampung Pagang. Ungkapan tersebut senada dengan sumber tutur seorang tokoh masyarakat Pagang, putra dari Gallarang, Pagang H Mashud Daeng Palallo bin H Saloko Daeng Patonang. Beliau bernama Ibnu Hajar Mashud Daeng Sitakka. Semasa hidup pernah menceritakan bahwa secara etimologi penamaan Pagang berasal dari kata pagama. Pa dalam bahasa Makassar adalah imbuhan yang membentuk kata benda. Pa sebagai orang yang melakukan.
Pagama bermakna orang yang beragama (senantiasa melaksanakan ajaran agama). Konon pada zaman Belanda, penjajah sulit mengucapkan kata pagama dan lidahnya lebih beradaptasi dengan kata pagang. Atas dasar tersebut, kata pagama disepakati menjadi Pagang. Begitulah hingga penamaan Kampung Pagang abadi hingga saat ini. Kampung atau kampong, pa’rasangan dalam bahasa Makassar merujuk pada permukiman atau lingkungan yang dinahkodai oleh seorang Gallarang kala itu
Filosofi Pagama pada penamaan Kampung Pagang terpancar melalui aktivitas tokoh agama dan masyarakat Pagang. Kampung Pagang bukan sekadar tempat belajar mengaji bagi warga kampung, namun warga sekitar seperti Maleleng, Bonto Jai, Bonto Panno, dan Bonto Manai kala itu memperdalam bacaan Alquran setelah tamat mengaji kampung dalam bentuk aktivitas assara baca guna memperdalam ilmu tajwid dan pemahaman terhadap makna Alquran yang dikenal dengan nama abbattuang (mengartikan). Sosok guru bernama Abu Hurairah Daeng Ringgi bin H Saloko Daeng Patonang, familiar dengan gelar Guru Buha.
Spirit religius di balik penamaan Kampung Pagang dipertegas oleh Prof. Dr. H. Basir Syam, M Ag. , Guru Besar Universitas Hasanuddin. Sosok beliau dikenal sebagai pecinta ulama. Kesibukan sebagai Guru Besar tak menyurutkan semangat mengumpulkan catatan kisah-kisah para ulama yang ditelitinya sejak tahun 1960-an, terutama di kampung halamannya di Pangkep. Sumber tutur dari beliau melalui WhatsApp pada 25 Januari 2020. Isi percakapan awal menuturkan: Saya M. Basir Syam bin Hj. Mutiara Daeng Tawero binti AGH. Abdullah bin AGH. Abdurrahman bin AGH. Sibbawahi bin Sulthan Abdul Razaq Jalaluddin (Raja Bone ke-22).
Menurut sumber tutur Prof. Basir Syam, asal muasal ulama di Kampung Pagang dapat dilihat pada garis keturunan AGH Abd. Majid Daeng Paratte bin Tuan Muhammad bin Pinra Kati Citta Marola (Kaci) anak Raja Palanro Barru. Nenek Kaci menjadi sosok inspiratif karena jasadnya menghilang pada saat dikuburkan. Kisah beliau menjadi santapan cerita religius keluarga besar. Menurut sumber tutur H Mashud Daeng Palallo, amalan semasa hidupnya antara lain setelah salat Subuh ia akan terus berzikir hingga masuk waktu salat Duha. Nenek Kaci sebelum menetap di Kampung Pagang, sebelumnya bermukim di Mekkah dan ingin sekali meninggal dunia di tanah suci.
Suatu hari putra beliau menyarankan agar Nenek Kaci pulang ke Indonesia, sembari berkata “Ammotere maki ri toddanga Amma, manna antu rawaki mate, Insya Allah rateji jasad alusutta ri Butta Makkah.” Harfiahnya berarti: “Pulanglah ke tanah air Mama, sekalipun engkau meninggal di sana, Insya Allah jasad halusmu tetap di Tanah Mekkah.” Mendengar saran putranya, akhirnya beliau pun kembali ke Indonesia dan bermukim di Kampung Pagang. Doa dalam bentuk ungkapan putranya diyakini menjadi kenyataan saat jasad beliau seketika menghilang pada saat dimasukkan ke liang lahat.
Masa sekolah dasar mengingatkan saya akan tradisi tabuh gendang di bulan suci Ramadan. Kenangan itu masih tersimpan indah di memori. Menurut riwayat orang tua, dulu di zaman kolonialkalau masuk waktu bulan Ramadan, beduk lebih dahulu ditabuh di Pagang sebagai petanda awal bulan puasa karena di situlah ulama besar yang paling dituakan, AGH Sibbawahi. Beliau adalah kakek ulama besar di Pagang, Baru-Baru, Kabba, Rappokadang, Japing-Japing, dan berbagai kampung-kampung lainnya yang berdekatan. AGH Sibbawahi dikenal juga dengan nama Ibarakka Daeng Malabbang. Sibbawahi adalah seorang wali Allah, anak Mangkau E ri Bone yang dikirim belajar kepada Sayed Bojo di Barru, lalu menikah dengan Pinra Kati Citta Marola (Ikaco) di Palanro Barru.
Narasi tutur Prof Basir Syam hampir sama dengan narasi tutur Ibnu Hajar Daeng Sitakka. Menurut penuturan beliau, sebelum H. Mashud Daeng Palallo menjadi Gallarang Pagang, Kare Pagang terakhir adalah Tuan Muda. Akibat Tuan Muda berangkat ke Mekkah mengikuti saudaranya Tuan Muhammad dan Tuan Makka, maka digantikan oleh H. Mashud Daeng Palallo. Menurut versi Ibnu Hajar Daeng Sitakka, sebelum H. Mashud Daeng Pallallo, Gallarang Pagang bernama H. Muda. Setelah beliau hijrah ke Kota Makassar barulah H Mashud Daeng Palallo menjadi Gallarang Pagang. Hal senada pernah dituturkan oleh H. Zainuddin, putra dari H. Muda. Singkat cerita Tuan Muhammad dan Tuan Makkah Kembali ke Pagang, sementara itu Tuan Muda meninggal dunia di Mekkah.
Anugerah pemberian nama Kampung Pagang merupakan hadiah istimewa. Berkah nama itu dinikmati sepanjang masa. Nilai-nilai religius yang ditanamakan secara turun temurun menjadi kausa lahirnya generasi pencinta Alquran dan empati terhadap sesama. Penamaan konsep ‘manusia berkah’ menjadi pelita sepanjang hayat. Hamparan surga di balik toponimi Kampung Pagang dapat digapai dengan istiqamah menebar kebaikan kepada sesama. Hal ini mengingatkan hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath yang artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. []
Salamakki lino akhirat, aamiin
BUTTA MALABBIRIKKU: RUPAMA JEMBATAN CINTA
BUTTA MALABBIRIKKU: RUPAMA JEMBATAN CINTA : Rupama JEMBATAN CINTA Mardiah Daeng Baji ...
-
Pembelajaran Ikhlas dalam Bekerja Tanpa Pamrih dari Sosok Seorang Bunda dan Guru Tercinta Berprofesi sebagai guru tak pernah terlinta...
-
MEWUJUDKAN GERAKAN MAKASSAR'TA TIDAK RANTASA (MTR) MELALUI REVITALISASI LORONG 309 DI RW.02 KELURAHAN MATTOANGING KECAMATAN M...













