Kamis, 16 Februari 2017

Teks Cerita inspirasi Menyentuh Hati Terbaru

Pembelajaran Ikhlas dalam Bekerja Tanpa Pamrih dari
Sosok Seorang Bunda dan Guru Tercinta

Berprofesi sebagai guru tak pernah terlintas di benakku. Sejak awal aku bercita-cita menjadi seorang lowyer yang siap sedia membela kebenaran tanpa pamrih. Atas dasar itulah kupilih fakultas hukum saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Hari demi hari kujalani dengan belajar dengan tekun, alhasil cita-citaku mempersembahkan Indeks Prestasi (IP) yang tinggi dapat kugapai. Semester I IP yang kucapai 3,70 dan alhamdulillah semester 2 mencapai 4,00. Rona kebahagiaan terpancar  pada wajah ayah dan bunda, saat kartu nilai kupersembahkan kepadanya. Hematku, ini adalah salah satu wujud baktiku sebagai seorang anak.
Ketika madu tumpah di lautan, ketika aku telah bersusah payah berjuang meraih impianku menjadi sarjana hukum. Ketika kami sangat membutuhkan sosok seorang ayah, ketika kami sangat membutuhkan biaya pendidikan, Allah menguji keimanan dan ketabahan keluarga besar. Sang Khalik memanggil ayah tepat pada hari Kamis, 25 Mei 1995.  Aku sebagai anak sulung sangat terpukul dengan keadaan ini. Di pikiranku terlintas bagaimana dengan pendidikan aku dan adik-adik karena bunda hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ternyata sesuatu yang kukhawatirkan betul-betul melanda diriku. Impianku menjadi seorang praktisi hukum kandas di tengah jalan, pada hal aku telah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), sementara itu adikku lulus pada Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Bunda bingung memutuskan mana yang harus mengalah di antara kami. Akhirnya dengan berat hati aku pun mengalah.  Hati sangat sedih. Tangisku pecah ketika cita-citaku tak terkesampaian. Ingin rasanya kubangunkan ayah di alam kubur, namun seketika terngiang sebaris kata ayah yang selalu berulang menelusup ke telingaku sebelum beliau meninggal dunia “Nak, Kamu adalah anak sulung, tanggung jawabmu menjaga bunda dan mendidik adik-adikmu,  kamu harus mengikhlaskan kepergian ayah. Ayah yakin insyaallah kalian akan menjadi anak sukses dunia dan akhirat. Kuncinya adalah senantiasa beribadah, jujur, dan jangan mudah putus asa. Kamu pasti bisa!” 
 Setiap kuingat kata-kata itu, semakin berat beban yang kurasakan, terlebih, urutanku sebagai sulung dari delapan bersaudara.  Tidak mudah bagiku sebagai anak sulung. Kurasakan beban ibuku yang semakin menjadi. Kulihat begitu berat beban yang harus dipikul bunda menjadi wanita  “single parent” karena beliau tidak mempunyai pekerjaan, namun beliau selalu tabah. Di pertiga malam ia bermunajat kepada Sang Khalik seraya memohon kesuksesan putra-putrinya. Sedikit demi sedikit aku belajar dari ketegaran bunda menghadapi hidup. Aku sangat menyayanginya. Aku tak ingin bunda pusing hanya sekadar persoalan finansial keluarga. Aku tak ingin bundaku sakit dan harus kehilangan dua orang yang sangat kucintai yaitu ayah dan bunda. Tiada pernah putus doaku agar bunda diberi kesehatan lahir dan batin hingga melihat anak-anaknya sukses. Atas dasar itulah kucoba merintis usaha kecil-kecilan. Bunda dan adik-adikku sangat antusias membantu usahaku. Semua keuntungan yang kudapatkan semuanya kupersembahkan untuk bunda dan biaya sekolah adik-adik.
Pucuk dicinta ulam tiba. Sekitar tiga bulan kutekuni usahaku, sekalipun kemampuan bahasa Inggris yang kumiliki masih terbilang pas-pasan, aku ditawar mengajar bahasa Inggris pada program Children’s Court di Yayasan Pendidikan Fitriah Soreang Pangkep. Seiring waktu, Yayasan tempatku mengabdi  membuka Kelas Paket B bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkep dibina oleh Ibu Nurhayati Laode (Pengawas Pendidikan Luar Sekolah). Program ini diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Aku diajak bergabung menjadi guru pamong. Kesempatan ini tak kusia-siakan. Menurutku dengan mengabdi pada program ini, setidaknya kudapat menyumbangkan pikiran dan tenaga, mengingat kemampuan berbagai materi kepada sesama masih minim.  Program ini adalah lahan pahala bila kita ikhlas menunaikannya. Mengabdi pada program ini memiliki suka dan duka. Aku sangat teringat ketika kami harus memberikan motivasi kepada peserta didik,  karena umumnya tidak yakin bahwa kelak memiliki ijazah SMP. Tiada hentinya kami memberi motivasi untuk membangkitkan kepercayaan diri. Mereka terkadang malu karena sering diejek oleh masyarakat sekitar. Maklumlah pesertanya rata-rata pengangguran. Di antara mereka ada yang seumur denganku.  Belum lagi tantangan dari para orang tua. Mereka lebih menginginkan anaknya membantu di sawah daripada sekolah.
Walau terasa semanis gula, tak bakal langsung kureguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru kumuntahkannya. Pujian, tantangan demi tantangan kami hadapi dengan sabar dan tak mengenal putus asa. Sanjungan dari berbagai pihak tak membuat kami angkuh. Demikian pula pahitnya medan tak membuatku patah semangat. Mengajar beberapa bidang studi membuatku semakin giat belajar. Honor guru pamong sebesar Rp 70.000, per bulan tidak mematahkan semangat dalam mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa. Pengalaman yang paling berkesan ketika aku mengunjunginya di sawah, tambak, dan di rumah melewati pematang sawah yang becek, ketika mereka tidak masuk sekolah. Mereka serasa telah menjadi bagian keluarga kami. Hal membuatku terharu dan bahagia ketika mereka akhirnya mengikuti Ujian Nasional (UN). Alhamdulillah dari 40 peserta dari awal akhirnya bertahan sampai 39 peserta mengikuti ujian dan dinyatakan lulus.  
Tak terasa tiga tahun aku mengabdi di Yayasan Fitriah, seorang kerabat bernama Ibu Nursiah, S.Pd. terangkat menjadi Kepala Sekolah di SD Kalibone. Semua administrasi kantornya  dirental di yayasan tempatku bekerja. Tak disangka ia bertemu dengan Kepala SMP Negeri 1 Pangkajene Bapak H.Mursalin. Beliau meminta diberi informasi jika mendapat tenaga operator komputer. Spontan Ibu Nursiah teringat akan sosok diriku. Sore harinya beliau langsung menemuiku dan menyampaikan kabar tersebut. Kabar gembira tersebut tidak langsung kuterima, tetapi kukonsultasikan dulu kepada Ibu Hasnah, S.Pd, selaku  ketua yayasan  tempatku bekerja, sekalipun ia adalah tanteku sendiri. Ia setuju kalau aku bekerja di sekolah karena mengajar kursus dapat dilaksanakan di sore hari.  Keesokan harinya aku diajak menghadap Pak Mursalim di kediamannya. Setelah bersalaman beliau menyampaikan bahwa tenaga yang dibutuhkan ternyata bukan operator komputer, melainkan  guru komputer karena di SMP Negeri 1 Pangkajene terdapat mata pelajaran muatan lokal komputer. Kebetulan dua guru komputer yang mengajar di sekolahnya mengundurkan diri. Beliau langsung menerimaku tanpa membawa surat lamaran kerja dan diharapkan mulai bekerja besok.
Setelah memohon restu bunda, kulangkahkan kaki menuju SMP Negeri 1 Pangkajene dengan mengucapkan bismillah. Hatiku  bahagia karena dengan mengajar di sekolah ini itu berarti aku kembali mengabdi ke almamaterku. Di sisi lain jantungku berdenyut kencang karena merupakan pengalaman pertamaku mengajar di SMP. Hari kedua aku pun diminta mulai mengajar, ternyata aku harus mengajar 34 jam pelajaran karena kelas VII s.d. IX dipercayakan kepada diriku. Hari demi hari kulalui, guru, staf, dan peserta didik sangat bersahabat denganku. Di selah waktu kosong atau istirahat beberapa staf dan guru bergabung belajar komputer di laboratorium, bahkan peserta didik  rela membersihkan laboratorium asalkan mereka masuk belajar komputer.
Entah mengapa suatu waktu aku seketika ingin mengundurkan diri mengajar di sekolah. Entah mengapa aku menjadi manusia yang sangat perhitungan. Aku merasa penghasilanku menerima ketikan di yayasan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan penghasilan mengajar di sekolah. Kucoba membicarakan keinginan mundur kepada Pak Saleh, S.Pd. dan guruku Pak Jafar, S.Pd. Beliau menasihatiku untuk bertahan seraya berkata “Nak, sekolahmu sangat membutukanmu. Nak, pada dirimu terdapat bakat guru, peserta didik  senang diajar olehmu. Coba Nak jika kamu menjadi guru, betapa bahagianya jika kamu ke pasar terdengar suara memanggilmu, Ibu…, Ibu.” Ujaran itu membuat hatiku tersentuh, air mata menetes membasahi pipi. Perasaan haru, bahagia berkecamuk di hati. Keesokan harinya kepala sekolah meminta aku menghadap. Ternyata Pak Jafar telah menyampaikan keinginanku mengundurkan diri kepadanya. Setelah mempersilahkan aku duduk beliau memohon agar tetap mengajar. Sambil berkata “Bu, kami sangat membutuhkan Ibu.” Tak kusangka ternyata beliau selalu mengamatiku mengajar. Setelah aku keluar kelas atau peserta didik keluar dari laboratorium ia mewawancarainya tentang bagaimana cara penyajian materiku.
Setelah aku menerima nasihat, baik dari guruku maupun kepala sekolah kutetapkan hati  bertahan mengabdi di SMP Negeri 1 Pangkajene. Suatu  hari Pak Jafar kembali menasihatiku “Nak, kuliah saja di STKIP Maros, tidak usah lanjutkan kuliahmu di fakultas hukum karena pada dirimu terdapat talenta pendidik. Selain itu kalau kamu kuliah di sana kamu masih boleh tetap kerja karena kuliahnya di sore hari.” Pertimbangan beliau  berterima di pikiranku. Sedikit demi sedikit aku menabung penghasilan. Aku tak berani melanjutkan kuliah jika tak mempunyai persiapan awal. Jujur aku takut gagal kedua kalinya. Alhamdulillah setelah mempunyai modal awal akhirnya aku mendaftar kuliah kembali dengan memilih jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia. Di pagi hari aku mengajar dan di sore hari aku kuliah. Semakin hari kurasakan betapa nikmatnya menjadi pendidik. Mengajar dengan guru yang pernah mendidik aku ketika sekolah adalah pengalaman yang paling berharga. Di sini aku belajar tentang sosok guru. Ternyata seorang guru selalu memperhatikan kesuksesan peserta didiknya, kapan dan dimanapun ia berada.
Enam bulan aku mengabdi di SMP Negeri 1 Pangkajene. Tepat di sore hari, sepuluh orang alumni SD Negeri 52 Kampung Pagang berkunjung ke rumah. Namanya Firmansyah, Rukmana, Darisah, Narti, Hamidah, Alwi, Faridah, Nurjannah, Fatmawati, dan Khairunnisa. Mereka menceritakan tentang masalah yang dihadapinya. Sambil tertunduk  sedih salah seorang di antara mereka berkata “Bu, bagaimana dengan nasib kami setelah tamat SD  jadi pengangguran karena orang tua  tidak mampu membiayai pendidikan kami.” Mendengar curahan hatinya, hatiku pilu seakan disayat sembilu. Aku teringat akan peristiwa yang pernah menimpa diriku. Aku teringat saat dimana kugagal meraih impian menjadi seorang praktisi hukum karena persoalan materi. Mereka berkeinginan aku membuka Paket B. Sembari menatap wajah lugunya, tiba-tiba kuteringat bahwa SMP Negeri 1 Pangkajene mempunyai SMP Terbuka. Di benakku berdoa ”Ya Allah semoga kudapat membantu mereka dengan mendaftarnya di SMP Terbuka.” Di akhir perbincangan aku menasihatinya jika kelak kutemukan solusi, mereka harus serius belajar dan tidak mesti dicari di rumahnya. Mereka spontan menjawab “Kami akan serius belajar Bu.”
Tiba di SMP Negeri 1 Pangkajene, kucoba mencari informasi tentang prosedur membuka Tempat Kegiatan Belajar (TKB). Ibu Mirah (Pengelolah SMP Terbuka SMP Negeri 1 Pangkajene) memberikan solusi untuk bergabung dengan TKB Kabba tetapi tempat belajarnya boleh di kampungku. Betapa bahagianya mereka  mendengar informasi tersebut. Mereka dengan antusias menyampaikan kepada saya kalau di Kampung Bonto Jai dan Maleleng terdapat anak putus sekolah. Kami pun berkunjung ke rumah anak tersebut dan mengajaknya bergabung ke TKB. Alhamdulillah mereka bersedia bergabung sekalipun jarak rumahnya dari TKB sekitar 2 km. Akhirnya jumlah bertambah menjadi lima belas orang.  Melihat antusias mereka, aku sangat semangat mencari  Modul SMP Terbuka di Perpustakaan. Betapa bersyukurnya lagi ternyata Bapak Sirajuddin Maezar (Ketua RW Kampung Pagang) bersedia  membantu mengajar di TKB jika aku bertugas di yayasan. Setelah kuusulkan ke sekolah induk ia diterima bergabung.
Langkah awal mereka belajar di ruang tamu. Dinding kamar dijadikan sebagai papan tulis. Langkah selanjutnya aku menghadap Kepala SD Negeri 52 Pagang, seraya memohon penggunaan satu ruangan kelas untuk belajar di sore hari. Permintaan kami langsung diterima dan akhirnya proses belajar-mengajar berlangsung di sekolah. Betapa antusiasnya mereka belajar. Ketika aku belum hadir di TKB mereka mengerjakan sendiri modulnya. Bahkan ketua kelasnya bernama Firmansyah duduk di meja guru menjadi tutor sebaya. Keseriusannya menjadikan aku semakin semangat.  Panas terik tak menjadi penghalang bagiku berjalan kaki berkilo-kilo meter dari Kampung Maleleng menuju Kampung Pagang ketika aku pulang mengajar dari SMP Negeri 1 Pangkajene. Niatku hanya satu yaitu ingin melihat mereka tumbuh menjadi anak yang berpendidikan. Aku berniat mereka memiliki pengetahuan sama dengan sekolah regular. Untuk itu mereka belajar selama enam hari dalam sepekan. Tiga hari aku yang bimbing dan tiga hari selebihnya dibimbing oleh Pak Sirajuddin. Kostum yang dipakai pun seragam sekolah SMP. Kebetulan di sekolahku peserta didik yang tamat menyumbangkan pakaian seragamnya. Seragam itu kusalurkan  kepadanya.
Kehadiran peserta didik SMP Terbuka di kampung menarik perhatiaan warga. Di satu sisi banyak yang salut terhadap mereka, namun di sisi lain terdapat pula beberapa peserta didik sekolah regular seakan memandang mereka seolah-olah berada di bawahnya. Bahkan saat belajar banyak  warga kampung datang melihatnya dan bermain di luar. Aku takut jangan sampai sarana di pekarangan sekolah rusak dan yang tertuduh peserta didikku. Atas dasar itulah aku menghadap kepala sekolah dan menyampaikan terima kasih dan keinginan memindahkan TKB ke kolom rumahku. Perpindahan peserta didik ke kolom rumah sempat memutar otakku,  pasalnya di kolom rumah belum ada meja, kursi, dan papan tulis. Selanjutnya kucoba  meminta bantuan dari keluarga. Alhamdulillah mereka merespon dengan memberi sumbangan. Dalam jangka waktu seminggu bahan yang dibutuhkan sudah tersedia. Para orang tua peserta didik pun bergotong- royong membuat kursi, meja, dan papan tulis. Bundaku tercinta dengan antusias menyuguhkan hidangan konsumsi buat mereka. Sungguh kepuasan batin kudapatkan dalam aktivitas ini.
Ruang TKB kutata seperti kelas. Sisa kayu dibuat tiang bendera, meja belajarku waktu sekolah kujadikan meja guru, lemari yang tidak dimanfaatkan lagi di rumah kujadikan lemari kelas. Di atas papan tulis terpajang rapi gambar garuda pancasila, gambar presiden dan wakil presiden. Selain itu di samping kelas terpajang foto menteri-menteri dan gambar pahlawan. Di luar TKB dihiasi bunga. Peserta didik secara bergiliran membersihkan TKB. Setiap kuterima honor guru pamong kubenahi sedikit demi sarana dan prasarna TKB. Kondisi ini ternyata masih mengundang perhatian warga sembari melihatnya dari luar pagar. Suatu hari mereka sedang belajar bahasa Inggris. Sementara itu di luar pagar terdapat banyak peserta didik SMP regular. Kucaba menanyakan struktur tense Simple Present Tense kepadanya, tetapi mereka tak mampu menjawab. Selanjutnya pertanyaan yang sama kuajukan kepada peserta didik SMP Terbuka, ternyata umumnya mampu menjawab. Di sinilah saya memberikan motivasi bahwa inilah bukti bahwa dimanapun kalian belajar kalau bersungguh-sungguh pasti bisa. Dengan melihat kenyataan ini akhirnya beberapa peserta regular ikut bergabung. Kalau pagi ke madrasah, dan sore harinya ke TKB. Hal ini kulaporkan ke induk dan menurut Bapak Muchtar Abdullah, S.Sos (Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pangkajene) merangkap Kepala SMP Terbuka, peserta didik tersebut didaftar saja karena di madrasah dia sudah kelas VIII sedangkan di TKB mereka kelas VII jadi ujiannya tidak bersamaan. Menurut Pak Saleh, S.Pd., (guru bina) mahasiswa saja boleh kuliah di beberapa tempat. Apalagi mereka belajarnya beda waktu. Lagi pula mereka benar-benar serius belajar.
Antusis peserta didik belajar semakin bertambah dengan kehadiran kepala sekolah dan  guru bina dari SMP Negeri 1 Pangkajene di TKB. Dua kali dalam sepekan mereka kubelajarkan komputer di sekolah binaan karena kebetulan saya adalah guru komputer di sekolah ini. Momen inilah yang mereka nanti-nantikan karena selain belajar komputer, guru bina lainnya memanfaatkan kesempatan ini mengajar mereka. Kebahagiaan mereka semakin bertambah dengan kehadiran pengelolah TKB membagikan beasiswa. Pemandangan membuatku tersipu-sipu ternyata setelah menerima beasiswa mereka serombongan ke pasar berbelanja dan keesokan harinya  semuanya serba baru. Seragam sekolah, tas, dan sepatunya serba baru. Hal yang paling berkesan adalah dengan kehadiran TKB  kampungku dikunjungi pejabat Kemendiknas karena setiap ada kunjungan mereka diantar ke TKB karena peserta didiknya aktif dan setiap hari belajar. Setiap kegiatan cerdas cermat di   tingkat provinsi, salah  peserta didikku bernama Firmansyah terpilih menjadi peserta.  Ia sangat bahagia karena selain berlomba, momen ini adalah untuk pertama kali menginap di hotel bersama guru binanya yaitu Bapak Baso Wahab, S.Pd.,M.Pd.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa tiga tahun aktivitas pembelajaran di TKB berlangsung, tibalah saat ujian nasional. Mereka mengikuti  ujian nasional di SMP Negeri 1 Pangkajene dan alhamdulillah 100% dinyatakan lulus. Tak terasa air mataku menetes saat mengetahui bahwa mereka melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) karena waktu itu, Bupati Pangkajene dan Kepulauan Bapak Ir. Syafruddun Nur, M.Si. mencanangkan program pendidikan gratis. Setelah lulus SMA beberapa di antaranya melanjutkan kuliah pada perguruan tinggi. Selebihnya telah bekerja. Terima kasih ya Allah cita-citaku menjadikan mereka menjadi insan yang bermanfaat Engkau kabulkan.
Bertepatan dengan penamatan peserta didik SMP  di TKB, secara kebetulan Yayasan Pendidikan Semen Tonasa membutuhkan tenaga pengajar bahasa Inggris di SD Tonasa I. Aku diajak bergabung. Aku bersedia asalkan masih bisa mengajar di SMP Negeri 1 Pangkajene. Kusangat bersyukur karena ternyata adik temanku membutuhkan tempat honor dan ia juga mampu mengajar komputer. Atas dasar itulah aku mencoba mengomunikasikan hal tersebut kepada kepala sekolah. Beliau mengizinkanku mengajar di Tonasa dengan ketentuan tidak melepaskan jamku. Singkat cerita aku resmi menjadi tenaga pendidik YKSTI. Empat hari aku mengajar di Tonasa dan dua hari mengajar di SMP Negeri 1 Pangkajene. Dengan status baru ini, alhamdulillah rezeki Allah semakin mengalir dan mampu meringankan beban bunda. Selain itu mampu membiayai kuliah di STKIP Maros. Suatu perjuangan yang luar biasa sembari mencari nafkah juga menuntut ilmu. Nyaris aku tak pernah istirahat di siang hari karena pulang dari sekolah langsung ke kampus. kalau tidak ada jadwal kuliah kumanfaatkan untuk belajar dan mengajar di yayasan. Alhamdulillah berkat rahmat Allah lewat doa bunda tercinta, semuanya dapat kulalui dengan ketabahan hati. Di perjalanan pulang dari sekolah ke kampus tak henti-henti kuberdoa di atas pete-pete “Ya Allah berikanlah hikmah dan kesuksesan di balik perjuanganku ini. Izinkan aku dan adik-adik membahagiakan bunda dan almarhum ayah.”
Allah Maha Mendengar dan Maha Pengasih. Doa kami dikabulkan oleh-Nya. Tepat sebulan sebelum aku ujian meja, aku terangkat menjadi PNS. Demikian pula setahun sebelumnya, adikku juga terangkat menjadi PNS di Kota Tarakan. Seiring waktu kuterpilih menjadi wisudawan terbaik dari empat jurusan yang ada di kampusku dengan predikat Sangat Terpuji. Menuju tempat wisuda air mata tak dapat kubendung. Aku membayangkan betapa bahagianya almarhum ayah jika dapat menyaksikanku. Kebetulan aku didaulat menyampaikan pesan dan kesan. Di akhir pesan dan kesan, sembari meneteskan air mata kuucapkan “Jika aku meninggalkan tempat ini, kemudian ada orang yang bertanya, siapakah yang paling berjasa dalam hidupmu, maka akan kujawab kedua orang tuaku dan guruku”
Tepat tanggal 1 Januari 2007. SK Pengangkatan pertama kuterima. Aku terangkat bukan sebagai guru, tetapi staf di SMA Negeri 1 Pangkajene karena ketika mendaftar CPNS aku belum selesai. Setahun aku mengabdi di SMA Negeri 1 Pangkajene. Bupati Pangkajene dan Kepulauan mendirikan SMA Negeri 2 Pangkajene. Beberapa guru dan staf dimutasi ke sekolah ini, termasuk diriku.  Beberapa tahun profesi staf kutunaikan terdapat kebijakan pemerintah bahwa pegawai yang bertitel sarjana pendidikan dapat dialihkan menjadi guru dengan ketentuan mengikuti ujian penyesuaian. Kesempatan ini tak kusia-siakan dan kebetulan Kotamadya Pare-Pare melaksanakan ujian tersebut. Singkat cerita tepat pada tanggal 1 April 2013 Bupati Pangkajene dan Kepulauan Bapak H. Syamsuddin A.Hamid, SE. mengalihkan statusku dari staf menjadi guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Pangkajene.
Kerinduan mendidik kini terobati dengan peralihan status diriku menjadi tenaga pendidik. Tak pernah terlupakan olehku ketulusan hati teman sejawat menyerahkan sebagian jam yang diampuh kepadaku. Bukan hanya itu, mereka adalah tempatku belajar dan berkonsultasi. Mengajar di SMA Negeri 2 Pangkajene semakin menantang diriku untuk senantiasa belajar, bahkan harus meluangkan waktu hingga sore hari, terkadang di malam hari demi membimbing peserta didik sekalipun tak mendapat honor tambahan. Kepuasaan batin yang kurasakan melebihi materi jika melihat antusias peserta didik, apatah lagi jika mereka meraih juara. Pengalaman yang paling berharga kudapatkan selama mengabdi di SMA Negeri 2 Pangkajene adalah keikhlasan dan kekompakan para pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Masih teringat olehku ketika sekolah ini pertama kali dioperasikan pada tahun 2009, kami terkadang berprofesi sebagai kulih bangunan  karena sekolah yang kami huni adalah kantor bupati lama. Puing-puing bebatuan berserakan dimana-mana. Ronsokan bangunan memenuhi ruangan sehingga kami harus mendorongnya keluar. Aku sangat kagum dengan sosok kepala sekolah Bapak Firdaus A.Noor, S.Pd.,M.Si., tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia  menjadi aktor utama aktivitas kerja bakti tersebut. Selain itu kami secara bergiliran berjaga malam, bahkan menjadi juru masak, meninggalkan keluarga demi mendampingi peserta didik di asrama.  Dekat dengan peserta didik di sekolah ini membuat aku banyak mendapatkan pengalaman yang berharga. Kuamati sosok peserta didik yang notabene berasal dari keluarga yang terbilang berada dan terpandang, namun ia tumbuh menjadi sosok yang sederhana, disiplin, dan santun.
Berkat keikhlasan dan kerja sama seluruh stakeholder, kesuksesan dapat kami raih  sedikit demi sedikit mulai dari event kabupaten hingga nasional, bahkan internasional. Bukan hanya peserta didik, tetapi para pendidiknya juga. Pengalaman yang paling berharga bagiku ketika diundang mengikuti pelatihan instruktur nasional untuk program Guru Pembelajar berdasarkan perolehan nilai UKG 2016. Aku tak pernah menyangka, bahkan membayangkan  pun tak pernah menjadi mentor dan fasilitator guru pembelajar berlatar belakang pendidikan doktor alumni luar negeri, berprofesi sebagai kepala sekolah, dan guru-guru hebat. Aku merasa sebagai pendatang baru di dunia pendidikan bahasa masih memiliki banyak kekurangan dan masih terus belajar. Semua ini kugapai berkat rahmat Allah swt. lewat doa bunda. Pengalaman berharga lainnya adalah ketika mendapat undangan menjadi finalis lomba menulis artikel tingkat nasional. Kupilih judul “Budaya Literasi Menjadi  Inspirasi Cerdas Kreativitas Menulis Peserta Didik SMA Negeri 2 Pangkajene” Subhanallah bagai mimpi, setelah berlaga di Jakarta Timur dengan 20 finalis guru SMA se-Indonesia, alhamdulillah kuterpilih menjadi 10 finalis dan ditampilkan kembali  mempresentasikan karya kami menjelang peringan Hari Guru pada tanggal 26 November 2016 di SICC Sentul, Bogor-Jawa Barat. Aku tak pernah menyangka bertemu dengan presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo, pejabat teras lainnya, serta para pemenang guru berprestasi tahun 2016.
 Masih teringat olehku betapa bahagianya bunda ketika aku lolos. Sambil meneteskan air mata beliau memeluk tubuhku. Hadiah yang kudapatkan kupersembahkan untuknya. Tak kusangkah prestasi ini adalah persembahan terakhirku untuk bunda di masa hidupnya. Sebulan setelah aku pulang  dari simposium guru, beliau berpulang ke rahmatullah. Sungguh aku merasa sangat kehilangan sosok bunda yang kokoh bagai karang, ikhlas mendidik buah hatinya tanpa pamrih, namun melihat perjalanannya ketika sakratulmaut kami sangat mengikhlaskannya. Kematiannya tepat saat dimana beliau terbiasa bangun menunaikan shalat tahajud. Beliau meninggalkan kami dalam keadaan berwudu dan tertutup auratnya tepat pada hari Jumat, tanggal 30 Desember 2016. Menjelang kematiannya tak henti-hentinya mengucapkan syahadat, zikir,  mengucapkan lafal al quran, dan masih mengikatkan kami untuk senantiasa bersedekah kepada sesama. Betapa bahagianya hatiku karena di saat jasad bunda berada di masjid yang bertindak sebagai khatib adalah adikkku. Demikian pula yang menjadi imam ketika shalat jenasa adalah adik bungsuku. Kematian bunda merupakan dakwa bagi putra-putrinya. Ternyata khusnul khatimah dapat digapai jika kita telah menanam pahala sebelumnya sebagaimana kata pepatah “Siapa yang menanam, dia yang akan menunai”
Terima kasih ya Allah, Engkau memanggil ayah  di saat kami  membutuhkan biaya pendidikan. Dengan mujizatmu Engkau memanggil bunda di saat kami telah berhasil dan menikah, terkhusus lagi putra bungsunya telah menamatkan hafalan Al quran 30 juz. Semoga segala amalan yang dilakukan putra-putrimu menjadi amal jariah untukmu  ayah dan bundaku tercinta di sisi-Nya, amin.  
Kegagalan merupakan pelajaran berharga bagiku. Pengalaman hidup mengajariku bahwa mengalah bukan berarti kalah, sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu terbaik bagi Allah. Awalnya kuanggap praktisi hukum adalah profesi yang sesuai denganku, namun Allah Maha Tahu, ternyata profesi guru adalah panggilan hidupku. Sosok bunda dan guru adalah inspirasi hidup bagiku. Bunda adalah pilar bagi keluarga. Di tengah kelembutannya ada hati sekuat baja dan cinta sebesar dunia. Guru adalah sebuah ujung tombak keberhasilan dalam sebuah pendidikan. Sekalipun engkau disanjung dengan kalimat ‘pahlawan tanpa jasa’ namun bagiku sosokmu adalah pahlawan yang paling berjasa dalam hidupku.




122 komentar:

Maghfiratul Wahdaniyah mengatakan...

selamat ibu, atas kesuksesan karyanya yang mengispirasi ini. selamat karena telah berhasil menjadi juara pertama ^-^ jayalah SMADAku!

Unknown mengatakan...

cerita kehidupan yang sebenarnya akan mengalah cerita karangan dari seorang penulis tingkat dunia seklaipun. terima kasih ibu telah membagi pengalaman yang pastinya sangat bermanfaat dan dapat memberikan banyak pelajaran. terus berkarya! terima kasih telah menjadi guru yang hebat bagi kami murid-murid ibu. jayalah SMADAku!!!

syahdarhaluoleo mengatakan...

Terima kasih inspirasinya Ibu!

TAMARIN mengatakan...

Pelajaran utama dari kisah ibu, kita bisa belajar bahwa keikhlasan dan pengorbanan demi keluarga tidak akan pernah sia-sia, sebab rencana Allah selalu memberikan jalan terbaik meski harus melewati kegagalan cita-cita awal. Lewat ketegaran serta doa sepertiga malam seorang ibu, ketulusan mengabdi tanpa mempedulikan besarnya materi justru membukakan pintu keberkahan, keberhasilan karir, dan kepuasan batin yang sejati.

Pena Ibnu Hajar Mashud mengatakan...

MasyaAllah

Pena Ibnu Hajar Mashud mengatakan...

Barakallah aamiin

Agsa mengatakan...

Semoga dedikasi, perjuangan, dan doa Bunda serta Ayah almarhum menjadi amal jariyah yang terus mengalir, serta menginspirasi kita semua untuk selalu ikhlas dan gigih dalam menjalani setiap proses kehidupan. jayalah ^-^ SMADAKU!

Kh mengatakan...

Banyak pelajaran hidup berharga yg ada dalam cerita tersebut, hidup tidak sepenuhnya begitu begitu saja, tapi kita tidak tau ada badai apa saja yg menerjang kedepannya, dari cerita itu saya mendapat banyak pelajaran, bekerja keras dan tidak mudah putus asa, terus berdoa dan tidak menyerah, banyak nilai kehidupan yang harus kita selami, jalani dengan ikhlas maka hasilnya akan sesuai bahkan lebih dari yang kita harapkan😍😍, keren ibuuu...bangga diajar oleh ibu

H mengatakan...

Kisah yang sangat menarik, kita bisa belajar bahwa Kita harus tetap semangat menghadapi kesulitan, berbuat baik kepada sesama, dan selalu berbakti kepada orang tua. Jayalah SMADAku!!!

Irrrr mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Aisyah Azzahra mengatakan...

IBUUUU IKUTTT BANGGAAA🫂🫂cerita nya pnuhhh inspirasi, orang yang penuh keteguhan, semangat yang luar biasa, kita punya jalan tapi Allah punya takdir yang tidak bisa di tebak, sehat selalu, sukses terus ibu Semoga Almarhum dan Almarhumah husnul khatimah, segala amal jariahnya menjadi penerang di alam kubur dan menjadi jalan menuju Surga. Al-Fatihah. Aamiin.betul" menjadi cerita inspiratif bagi ank sulung yang bertanggung jawab bagi adik dan keluarga lain 😞👋🏻

Naufal Putra B only one mengatakan...

Semoga pengorbanan, ketulusan, dan rasa tanggung jawab sebagai anak tertua menjadi ladang pahala yang tak terputus, serta menginspirasi kita semua untuk selalu tangguh, ikhlas, dan gigih dalam menjaga keluarga serta meraih masa depan. Sukses selalu Ibu

baim mengatakan...

Jangan pernah menyerah dalam menghadapi cobaan hidup. Ikhlaslah dalam bekerja, berbakti kepada orang tua, dan hargai jasa guru yang telah membimbing kita.

Aira Muliyani mengatakan...

ceritanya sangat menginspirasi dan salut banget sama perjuangannya ibu!

Nurul Fatimah mengatakan...


Ceritanya benar-benar menyentuh hati dan sangat menginspirasi. Di balik setiap ujian berat yang harus dialami, Ibu memilih untuk tetap teguh, tabah, dan ikhlas melanjutkan langkah demi mendedikasikan ilmu kepada murid-murid meskipun ini bukan bagian dari cita-cita ibu, serta menjadi penopang bagi keluarga. Ketulusan dan pengorbanan luar biasa ini adalah bukti nyata keindahan hati ibu . Semoga setiap tetes keringat, lelah, dan dedikasi yang Ibu berikan bernilai pahala melimpah serta menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus.

Nadhifah mengatakan...

Dari cerita ibu kami bisa mendapat inspirasi bahwa dalam menjalani kehidupan kita tidak boleh mudah berputus asa, semua cobaan yang diberikan oleh sang Maha Kuasa tidak mungkin melebihi kemampuan kita. Dari Ibu juga kita belajar bahwa menjadi anak sulung yang kuat dan sabar yang luas, akan menjadi seorang kakak yang berhasil menjadi panutan. Dan juga kita bisa dapat mengambil contoh dari ibu bahwa jika kita sungguh-sungguh menyayangi kedua orang tua dengan tulus, doa dari mereka dan kesungguhan kita akan membuahkan hasil yang manis.

annisa mengatakan...

kisah cerita yang sangat menginspiratif, dan memotivasi. Memiliki semangat yang luar biasa tanpa adanya rasa menyerah dalam menjalani pendidikan

Khalisa mengatakan...

Dari cerita tersebut membuktikan kalau kesuksesan sejati itu bukan cuma soal kejar angka dan materi, tapi tentang seberapa besar keberadaan kita bisa bermanfaat buat orang lain. Thank you for being such an amazing teacher And also thank you for not giving up easily and living life sincerely. ❤️❤️

sahirah mengatakan...

Terima kasih banyak atas inspirasi dari kisah Ibu. Karya Ibu sangat menginspirasi saya, dan selamat atas kesuksesan yang Ibu dapatkan. Dari kisah Ibu, saya belajar untuk tetap tegar, pantang menyerah, berbakti kepada orang tua, dan ikhlas membantu sesama. Saya juga belajar bahwa di balik setiap cobaan, pasti ada hikmah dan rencana indah dari Allah. Selama kita terus berdoa dan berusaha, insyaallah akan ada jalan terbaik dari-Nya.

Why mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Why mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Aulia mengatakan...

Cerita yang sangat menginspirasi ibuuu.. Banyak pelajaran yang sangat bermanfaat dari cerita ini. Dimana cobaan datang dari mana saja dan cobaan itu tidak akan datang kepada orang yang tidak mampu. Ibu menghadapi segala nya dengan semangat dan tak pantang menyerah. Mengalah bukan lah awal dari kekalahan melainkan pintu menuju kesuksesan. . Sangat bangga menjadi orang yanng pernah di ajar oleh orang sehebat ibuuuu..😊

Irrrr mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
raihanah mengatakan...

Terima kasih ibu atas cerita yang begitu menginspirasi, banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dari cerita ini mulai dari pantang menyerah dan selalu gigih dalam meraih kesuksesan walaupun banyak cobaan yang dihadapi kita harus selalu bangkit.

Why mengatakan...

Terima kasih banyak ibu ats inspirasi dari kisah ibuu.sya banyak belajar dari kisah ibuu, Jangan pernah menyerah ketika mengalami kegagalan, karena apa yang menurut kita baik belum tentu menjadi yang terbaik menurut Allah. Teruslah berjuang, ikhlaskan setiap kehilangan, dan tanamlah kebaikan selama masih diberi kesempatan hidup. Karena, kesuksesan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita raih, tetapi juga tentang kebaikan yang kita tinggalkan dan doa yang terus hidup dalam hati orang-orang yang kita cintai.

Irrrr mengatakan...

dari kisah hidup Ibu kami belajar cara menjadi manusia yang kuat dan tangguh menghadapi dunia,perjuangan Ibu sangat-sangat menginspirasi🤩

muh radhy suryapraja mengatakan...

saya sangat berterima kasih kepada ibu,saya terinspirasi karena melihat ibu di adalah anak pertama dia rela berkorban untuk adik” nya dia kehilangan jurusann impiannya demi melihat adik”nya sukses,dan saya termotivasi menjadi seorang menjadi anak pertama,jadi kita tidak boleh putus asa kita harus terus mencoba selagi masih bisa dan dalam surah Al-Insyirah ayat 6 :

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
inna ma‘al-‘usri yusrâ
Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

zass mengatakan...

masya Allah... ceritanya sangat menginspirasi dan mengajarkan kita bahwa kekalahan dan mengalah bukan akhir dari segalanya tetapi pelajaran dan ujian agar kita tetap harus semangat, berusaha dan bekerja keras serta pantang menyerah untuk mengejar sesuatu yang kita inginkan. Dibalik kesusahan pasti ada kemudahan, kita punya tujuan tetapi Allah punya rencana. semangat ibu, semoga dengan ibu menjadi guru yang tak pernah dibayangkan dapat melahirkan insan cendikiawan dan melahirkan generasi emas di masa depan. aamiin... 🤲🤩

Nur Anggraini Pertiwi mengatakan...

Amanat cerita : jangan mudah menyerah menghadapi tantangan dalam hidup, tetaplah berusaha dan berbakti kepada kedua orang tua, dan yang tidak kalah penting adalah menjalani hidup dengan ikhlas karena apa yang kita harapkan dalam hidup tidak selalu menjadi kenyataan karena mungkin saja bukan itu yang terbaik bagi kita

husnul mengatakan...

Masya Allah, kisah inspiratif yang sangat luar biasa dan banyak yang bisa kita petik dari cerita tersebut. Amanat cerita yang dapat saya ambil adalah "Kesuksesan tidak datang dengan gratis, tetapi harus diperjuangkan dengan disiplin, bertanggung jawab, dan berusaha semaksimal mungkin."

Ranim Magfirah mengatakan...

Pesan moral: Dari cerita inspirasi di atas, dapat mengajarkan kita bahwa pentingnya keikhlasan, ketabahan, dan pengorbanan dalam menghadapi ujian hidup.

Nur Aprilia mengatakan...

MasyaAllah banyak pelajaran dari kisah tersebut mulai dari pentingnya memiliki keikhlasan dalam menerima ketetapan yang maha kuasa, karena sebuah kegagalan atau keharusan untuk mengalah demi keluarga bukanlah akhir dari segalanya, melainkan jalan menuju rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Kesuksesan yang diraih juga mengajarkan bahwa doa, ketegaran, dan ridha seorang ibu merupakan kekuatan terbesar yang mampu menembus segala keterbatasan ekonomi serta rintangan hidup. Selain itu, kisah ini memotivasi kita untuk tidak pernah menyerah pada keadaan, terus gigih berjuang dan menuntut ilmu, serta menyadari bahwa kemuliaan hidup sejati terletak pada keikhlasan kita dalam mengabdi dan berbagi pengetahuan demi menebar kebaikan bagi sesama.

azizah hummairah mengatakan...

dari cerita ini saya betul betul percaya kegagalan meraih impian awal bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bentuk takdir Tuhan yang sedang mempersiapkan hadiah terindah untuk kita. Keikhlasan mengalah demi pendidikan adik-adik menjadi bukti bahwa pengorbanan tidak pernah terbuang sia-sia. Jiwa yang tekun dan doa dari orang tua adalah kunci utama untuk mencapai kesuksesan yang hakiki.

Nisyyah Qonita Syarifuddinn mengatakan...

kita harus bekerja tanpa pamrih dan tidak mudah putus asa saat gagal karena rencana tuhan pasti lebih baik

aswira mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ranim Magfirah mengatakan...

Kegagalan meraih cita-cita awal bukan berarti akhir dari segalanya, melainkan bentuk pengalihan takdir menuju jalan yang lebih bermanfaat. Di samping itu, teks diatas juga mengingatkan kita bahwa kerja keras yang diiringi doa, ketulusan hati, serta kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan akan senantiasa membukakan jalan kemudahan dan mendatangkan kepuasan batin yang tak ternilai harganya.

firjin mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hasma mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
firjin mengatakan...

Amanat yang saya ambil yaitu kita harus menjalani kehidupan dengan ikhlas, sabar, dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai cobaan. Kita juga harus berbakti kepada orang tua, menyayangi keluarga, rajin belajar, serta membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan. Selain itu, kita hendaknya tetap semangat dalam menggapai cita-cita dan mengabdikan ilmu yang dimiliki untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

nadya sahwa kamila mengatakan...

Masya Allah dari cerita diatas saya dapat mengambil inspirasi bahwa kegagalan seseorang merupakan pelajaran yang sangat berharga dan mengalah bukan berarti kalah. Apa yang menurut kita baik belum tenru baik untuk ALLAH

Ahmad Putra mengatakan...

Cerita beliau sangat menyentuh hati karena beliau adalah sosok bunda sekaligus guru yang menjalankan tugasnya. Hal yang paling berkesan adalah bagaimana beliau menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dari cerita beliau untuk selalu bekerja dengan sungguh-sungguh menghargai jasa seorang guru serta meneladani ketulusan beliau dalam mendidik dan membimbing semua muridnya.

Ndiatull ajh mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Andi Ratu Salzabila M mengatakan...

Amanat yang bisa saya ambil dari cerita di atas adalah kita harus tetap ikhlas, sabar, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Kita juga harus berbakti kepada orang tua, bertanggung jawab terhadap keluarga, serta selalu percaya bahwa dengan doa, kerja keras, dan kejujuran, kita dapat meraih cita-cita meskipun menghadapi banyak rintangan.

Astriani Afrilia mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
TeguhIbnu mengatakan...

Amanat yang dapat diambil adalah kita harus menjalani kehidupan dengan ikhlas, sabar, pantang menyerah, dan selalu berusaha. Kita juga harus menghormati orang tua, menghargai jasa guru, saling menghormati sesama teman, serta senantiasa berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT.

alya nur anaya mengatakan...

Menjalani hidup itu harus bisa menerima semua tantangan. Apalagi adanya kegagalan, kita tidak boleh mudah menyerah. Kita harus tetap sabar, berusaha, dan berdoa atas masalah yang dihadapi. Jangan menganggap kegagalan sebagai akhir dari segalanya karena bisa saja ada jalan lain yang lebih baik untuk kita.

Naufal Akram mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Alifian awaluddin mengatakan...

Amanat yg saya dapat pengorbanan dan bakti seorang anak, relah mengalah dan mengorbankan impian pribadi demi kesejahteraan keluarga merupakan bakti yg sangat mulia.

Mutiara mengatakan...

Dari cerita tersebut kita dapat belajar bahwa kita tidak akan diberi cobaan di luar kendali kita, apabila kita sabar, ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT. dalam menghadapi cobaan pasti kita akan melewatinya. Kita juga harus membantu sesama manusia tanpa rasa pamrih, karna sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas akan berbalik kebaikan kepada diri sendiri.

Muh. dirham mengatakan...

Kita harus ikhlas dalam bekerja dan membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan. Jangan mudah menyerah menghadapi cobaan, hormati jasa orang tua dan guru, serta yakin bahwa kerja keras, doa, kesabaran dan kejujuran akan membawa kebaikan.

adit mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Muhammad Firli mengatakan...

Amanat yang dapat saya ambil dari cerita tersebut adalah kita harus menjalani dengan ikhlas, sabar, dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan. Jangan hanya mengejar kesuksesan untuk diri sendiri, tetapi gunakanlah ilmu, kemampuan, dan keberhasilan yang kita miliki untuk membantu sesama

Hasma mengatakan...

Pesan yang bisa saya ambil dari cerita di atas adalah keikhlasan menerima ujian hidup serta kepasrahan pada kehendak Allah Swt. akan membuahkan jalan keluar dan keberkahan yang tidak disangka-sangka serta rasa tanggung jawab sebagai anak sulung untuk menjaga keluarga dan memuliakan orang tua hingga akhir hayat mereka.

Astriani Afrilia mengatakan...

Pesan yang dapat saya ambil adalah Kita harus belajar untuk ikhlas dan tulus dalam mengabdi tanpa selalu menilai segala hal dari materi, selalu berbakti dan menghormati orang tua yang tak pernah lelah mendoakan kita, serta berani mengalah dan menekan ego pribadi demi kebahagiaan keluarga. Selain itu, kita juga harus peka dan tergerak membantu orang-orang di sekitar yang membutuhkan, pantang menyerah saat dihantam ujian hidup, dan selalu bersyukur serta menyertakan Tuhan dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan.

Naufal Akram mengatakan...


Amanat yang saya ambil adalah rezeki yang sudah ditetapkan untuk kita tidak akan tertukar dengan orang lain, meskipun kita mempunyai cita-cita tidak selama jalannya untuk mencapai cita-cita tersebut berjalan dengan mulus, sang pencipta mungkin punya jalan yang lain lebih baik dari apa yang kita rencanakan, walaupun kita punya rencana tapi Allah SWT yang menentukan, percayalah takdir Allah itu lebih baik.

adit mengatakan...

ikhlas dalam membantu orang lain, tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan

Alvira mengatakan...

Masya Allah, kisah Ibu ini mengajarkan kita bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Terkadang, jalan yang berbeda justru membawa kita pada takdir terbaik. Jadi, jangan mudah menyerah, karena Allah selalu punya rencana indah di balik setiap ujian.

Ndiatull ajh mengatakan...

Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan jangan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Kita juga harus menghargai, membantu, dan peduli kepada orang di sekitar karena setiap kebaikan yang dilakukan akan memberikan manfaat bagi kehidupan kita dan orang lain.

rey mengatakan...

amanat yang saya ambil adalah, keikhlasan dalam bekerja dan mengabdi dan pentingnya memberi motivasi dan harapan bagi sesama

aswira mengatakan...

Amanat ceritanya adalah kita bisa menjalani hidup dengan ikhlas, pantang menyerah, berbakti kepada orang tua, dan peduli terhadap sesama. Kita juga belajar bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tapi juga tentang manfaat apa yang bisa kita berikan pada orang lain, seperti halnya Ibu yang memberikan peluang pendidikan untuk anak yang putus sekolah.

Muhammad irfan mengatakan...

Amanat cerita yang saya ambil adalah kita harus tetap ikhlas walaupun jalan Allah berbeda karena jalan yang kita inginkan belum tentu yang terbaik, tetapi jalan Allah yang berikan sudah pasti yang terbaik

Rofi Rahman mengatakan...

Amant yang bisa kita tarik pada cerita tersebut adalah terus berusaha dan pantang menyerah karena rintangan pasti akan selalu ada. Terus lah percaya pada Yang Maha Kuasa supaya diperlancar dan dipermudah apabila ada tantangan yang muncul. Dan selalu bermurah hati dan peduli sosial karena juga bisa membuat kita bahagia dalam membantu sesama.

Muhammad Abisalih mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nasra mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Muh. Naufal Fajrin Ikhbal mengatakan...

Pesan moralnya adalah kita harus ikhlas membantu sesama, pantang menyerah, rajin berusaha, dan berbakti kepada orang tua tanpa mengharapkan imbalan.

Nasra mengatakan...

Mengalah demi keluarga bukanlah sebuah kekalahan, melainkan awal menuju takdir yang jauh lebih bermakna. Keikhlasan berkorban dan pengabdian tulus tanpa pamrih pada akhirnya selalu mendatangkan keberkahan serta kesuksesan yang sejati.

Muhammad Abisalih mengatakan...

Amanat yang saya dapat ialah mengalah bukan berarti kalah dan yang kita anggap baik belum tentu terbaik bagi Allah, dan tugas kita untuk tetap berusaha , pantang menyerah dan terus meminta doa kepada Allah untuk dipermudah segala urusannya

Shabrina Annisa Zada mengatakan...

Amanat yang saya dapat ialah, Kepandaian atau kehebatan kita tidak ada artinya jika kita bersikap sombong dan menggampangkan tugas. Sebaliknya, ketekunan, konsistensi, dan kerja keras sekecil apa pun langkahnya akan selalu membawa kita pada keberhasilan.

Abdan Malikulmulki mengatakan...

Narasi di atas mengajarkan saya untuk bisa ikhlas dan lebih bijak untuk memilih tindakan dan dengan cerita di atas mengajarkan saya untuk tdk menyerah pada kenyataan

Aidah mengatakan...

Dari teks tersebut pesan yang dapat saya ambil adalah pentingnya keikhlasan, pengorbanan, dan ketegaran dalam menjalani hidup. Sebagai anak sulung, penulis mengajarkan kita untuk berani mengalah demi keluarga meskipun harus mengorbankan cita-cita menjadi seorang lawyer.

Salsabila sufi168 mengatakan...

Jalan yang telah kita tentukan dan berfikir itu baik bukan berarti baik bagi Allah, dan Allah telah menentukan jalan hidup kepada masing masing hambanya. Kerja keras, usaha, ketekunan dan doa orang tua dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, jangan lupakan Allah di setiap jalan mu karna manusia hanya bisa berencana dan Allah yang menentukan.

NURUL QALBI mengatakan...

Sangat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam cerita ini. Dimulai dari konflik saat tokoh kehilangan sosok ayah, yang membuat tokoh akhirnya mengalah dan memutuskan tidak melanjutkan kuliahnya demi adik-adiknya, membuat tokoh mengubur impiannya untuk menjadi seorang lawyer. Sampai pada saat sang tokoh membuka usaha kecil-kecilan untuk membantu perekonomian keluarganya. Walaupun tokoh mengalami banyak masalah yang menghadangnya, tetapi itu tidak membuat tokoh menyerah. Ia terus mencari jalan keluar dari permasalahannya. Dari motivasi motivasi yang dipegang oleh tokoh, tokoh utama mampu melewati masalah yang menghadangnya. Cerita ini menjadi sangat inspiratif dan banyak pembelajaran yang dapat kita ambil. Seperti, pantang menyerah, serta belajar dengan tekun.

Muh.Albar mengatakan...

Konflik dalam novel tersebut terjadi ketika ayah sang tokoh utama meninggal dunia pada 25 Mei 1995. Peristiwa itu membuat tokoh utama merasa terpukul karena harus memikirkan kelanjutan pendidikannya sendiri serta pendidikan adik-adiknya.
​Dari pesan moral tersebut, ia belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, mengalah bukan berarti kalah, dan bekerja dengan ikhlas dapat memberikan manfaat yang besar bagi orang lain.

DinaNaurah mengatakan...

Amanat yang saya dapatkan ialah kita dapat menjadikan kesulitan sebagai motivasi untuk terus berkembang dan memperbaiki kehidupan. Jangan mudah menyerah hanya karena ada kesulitan didalamnya, karena disetiap kesulitan pasti ada jalannya.

NUR AFIFA SYAFIRA mengatakan...

Pelajaran yang bisa saya petik adalah mengalah bukanlah sebuah kekalahan, kegagalan adalah pelajaran berharga untuk menemukan takdir terbaik yang telah ditentukan Allah. Belajar dari karakter ibu penulis juga yang memiliki kelembutan hati namun berjiwa sekuat baja dan dipenuhi kasih sayang tanpa batas dalam menjaga serta menopang keluarga.

Nur qalby mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nur qalby mengatakan...

Menurut saya, cerita ini sangat bagus dan menyentuh hati. Dari cerita ini, kita belajar untuk tidak mudah menyerah, selalu ikhlas dalam bekerja, dan menghargai pengorbanan orang tua serta guru.

Nur qalby mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
KHUMAIRI SYAWALIAH ABADI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Muh. Arfan. F mengatakan...

Roda kehidupan selalu berputar, kadang yang jauh dari ekpektasi kita itu tentang kematian sosok keluarga yang kita sayang dan cintai. Rencana yang kita jalani tidak selalu berjalan mulus, banyak kondisi di mana kita harus mempertimbangkan banyak hal, mengalah bukan berarti kita tidak punya jalan lain. Kadang kita perlu bekerja keras dan tidak menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang jauh dari ekspektasi kita, berkat ikhtiar dan doa serta kerja keras percayalah ada keajaiban lain yang sudah dipersiapkan dengan langkah yang tidak pernah kita duga.

KHUMAIRI SYAWALIAH ABADI mengatakan...

pesan dari teks tersebut mengangkat kisah tentang pembelajaran ikhlas dalam bekerja dan berbakti tanpa mengharapkan pamrih. Sosok "Bunda dan Guru Tercinta" dalam tulisan ini digambarkan sebagai teladan nyata bagaimana sebuah pengabdian dilakukan sepenuh hati, sehingga pesannya terasa hangat dan membakar semangat pembaca untuk lebih bersyukur serta tulus dalam menjalani profesi masing-masing.

Kisah ini sangat menyentuh hati saya dan penuh inspirasi. Mengajarkan bahwa ketulusan, keikhlasan, dan perjuangan tidak pernah sia-sia. Semoga kisah ini menjadi teladan bagi kita untuk terus berbuat b mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
KARLINA mengatakan...

Di balik setiap ilmu yang tertanam, ada ketulusan yang sering tak terucap. Sosok ibu dan guru mengajarkan bahwa pengabdian sejati bukan tentang seberapa banyak yang diterima, melainkan seberapa besar kebaikan yang ditinggalkan dalam kehidupan orang lain.

Rezky mengatakan...

Pesan, yang syaa dapat jagan pantang menyerah, dan mengalah belum tentu kalah, saling memberi motivasi sesama tanpa mintaimbalan, ayoo boy

Dari cerita ini saya belajar bahwa kita harus selalu ikhlas, sabar, dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya, karena bisa jadi ada jalan mengatakan...

Dari cerita ini saya belajar bahwa kita harus selalu ikhlas, sabar, dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya, karena bisa jadi ada jalan lain yang lebih baik untuk kita. Saya juga belajar untuk selalu menghargai pengorbanan orang tua dan jasa guru yang telah mendidik kita. Selain itu, kita harus membantu orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, karena kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain. (Muhammad Rafiq Hazemi /XII IBNU KHALDUN)

Mujahadatun Nafsiah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nur Amelia mengatakan...

Cerita ini mengajarkan kita untuk selalu ikhlas dalam bekerja, pantang menyerah, berbakti kepada orang tua, dan mengabdi kepada sesama dengan tulus.

andi dwita mengatakan...

dari cerita ini saya dapat mengambil pelajaran bahwa terkadang hidup tidak berjalan sesuai dengan rencana kita, tetapi diluar semua itu rencana tuhan jauh lebih baik yang penting kita senantiasa sabar, selalu berpikir positif bahwa setelah badai yang menimpa pasti selalu ada keindahan di ujungnya, pantang menyerah dan selalu ikhtiar.

Nur Islamiah mengatakan...

pesan yang saya dapat yaitu pentingnya menjaga kedisiplinan dan rasa tanggung jawab, kebiasaan baik dimulai dari hal-hal kecil menghargai waktu, bersungguh-sungguh dalam bertugas, dan saling menghormati satu sama lain.

Raysa zalika Ramadhani mengatakan...

Yang kita dapat dari pembelajaran ini adalah jangan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup.

Mujahadatun Nafsiah mengatakan...

Amanat yang saya dapat yaitu Kedisiplinan bukanlah hal berat jika kita menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari. Disiplin dimulai dari hal kecil: tepat waktu, menjaga kerapian, dan menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.

kahfi ganteng mengatakan...

Teks nya sangat menginspirasi karena menceritakan perjuangan seorang anak untuk meraih cita-cita sekaligus membantu keluarganya. Meskipun menghadapi kesulitan ekonomi dan kehilangan ayah, tokoh tetap berusaha, berbakti kepada ibu, dan mengabdikan diri sebagai guru. Teks ini juga mengajarkan kita untuk ikhlas dalam bekerja, pantang menyerah, dan selalu berbakti kepada orang tua.

Muhammad Nibras mengatakan...

Kita harus tetap semangat meraih cita-cita, sabar menghadapi cobaan, dan menggunakan ilmu yang kita miliki untuk membantu orang lain agar menjadi lebih baik.

kahfi ganteng mengatakan...

Kisah luar biasa tentang takdir, doa, dan ketegaran seorang anak sulung. Mengajarkan kita bahwa kegagalan impian lama adalah cara Allah menuntun kita menuju takdir yang lebih mulia. Sebab pada akhirnya, apa yang tertakar tidak akan pernah tertukar.
(Muh. Farid Haryanto/XII ALKHAWARIZMI)

Abd lathif mengatakan...

Keterbatasan finansial serta duka akibat kehilangan orang tua tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan berkarya.

Tri Indayani N mengatakan...

Amanat dari cerita ini adalah kita harus ikhlas berkorban dan berbakti kepada orang tua, serta menjalani pekerjaan dengan tulus tanpa pamrih karena setiap kebaikan yang kita tanam dengan sabar pasti akan membuahkan hasil yang manis.

nafsiii mengatakan...

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesuksesan tidak hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa membantu orang lain meraih masa depan yang lebih baik.

Anita Patwa mengatakan...

Inti cerita
Seorang anak sulung yang bercita-cita menjadi lawyer harus mengalah meninggalkan impiannya setelah ayahnya wafat. Demi membantu ibunya membiayai dan mendidik adik-adiknya, ia merintis usaha kecil, lalu mengabdi sebagai guru bahasa Inggris, guru pamong Paket B, dan guru komputer. Dari pengalaman itu, ia kemudian membuka TKB SMP Terbuka bagi anak-anak putus sekolah di kampungnya. Meski honor kecil, medan berat, dan sering dipandang remeh, ia tetap ikhlas, sabar, dan pantang menyerah. Hasilnya, murid-muridnya lulus UN 100%, ia diangkat menjadi PNS, lulus sebagai wisudawan terbaik, dan dapat membahagiakan ibunya.

Amanah
Cerita ini mengamanatkan bahwa tanggung jawab sebagai anak sulung harus dijalani dengan ikhlas, bahwa berbakti kepada orang tua dan mendoakan mereka adalah jalan keberkahan, dan bahwa pendidikan dapat mengubah nasib banyak orang. Kunci sukses dunia dan akhirat adalah rajin beribadah, jujur, serta tidak mudah putus asa. Ikhlas dalam bekerja dan mengabdi tanpa pamrih, terutama sebagai guru, akan mendatangkan kebaikan dan rezeki yang tidak disangka-sangka.

st.keiza anugrah aprilia.n mengatakan...

inti cerita
cerita ini mengisahkan perjuangan seorang guru yang tetap ikhlas mengajar dan mengabdi kepada masyarakat meskipun menghadapi kesulitan ekonomi dan masalah keluarga. Ia membantu anak-anak kurang mampu agar tetap mendapatkan pendidikan dan meraih cita-cita.


pesan
kita harus ikhlas dalam bekerja, pantang menyerah menghadapi kesulitan, menyayangi keluarga,serta rela membantu orang lain agar dapat memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik

Zalwa Adelia mengatakan...

Inti Cerita:
Seorang mahasiswa hukum yang merupakan anak pertama dari 8 bersaudara ber-IP 4.00 gagal jadi pengacara karena ayah wafat 1995, lalu ia banting setir mengabdi ikhlas jadi guru honorer Paket B / SMP Terbuka dengan honor Rp 70.000, mengajar anak putus sekolah di kolong rumah di Kampung Pagang hingga lulus 100% dan melanjutkan hidup. Keikhlasan itu membawanya menjadi guru PNS berprestasi nasional yang bertemu Jokowi di tahun 2016, sebelum bundanya wafat.

Amanah:
Mengalah bukan berarti kalah, rencana Allah lebih baik dari rencana manusia. Ikhlas tanpa pamrih adalah kunci, mengajar bukan karena honor, tapi karena pengabdian. Siapa yang menanam, dia akan menuai. Bunda dan Guru adalah pahlawan sejati, doa bunda dan didikan guru yang mengantarkan kesuksesan.

Ryanti Anggraeni Putri mengatakan...

1.inti cerita
Perjuangan seorang anak menjadi guru yang ikhlas mendidik, membantu anak kurang mampu, dan membahagiakan ibunya.

2.amanah
Kita harus berbakti kepada orang tua, pantang menyerah dalam meraih cita-cita, serta ikhlas membantu sesama. Jadilah guru yang tulus dan bertanggung jawab dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Muh. Nur Rijal Jamal mengatakan...

Inti Pesan :

Inti pesan dari teks tersebut adalah kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pelajaran berharga yang dapat mengantarkan seseorang menuju kesuksesan dan menemukan panggilan hidupnya. Dengan ketabahan, keikhlasan, kerja keras, doa, serta semangat pantang menyerah, seseorang dapat menghadapi berbagai cobaan dan meraih keberhasilan. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk mengabdi, mencerdaskan bangsa, dan membantu sesama meraih masa depan yang lebih baik.

Amanah :

Jangan mudah menyerah dalam menghadapi cobaan hidup. Setiap kesulitan pasti mengandung hikmah dan pelajaran berharga.
Ikhlas dalam menerima takdir Allah Swt. Sesuatu yang kita inginkan belum tentu menjadi yang terbaik bagi kehidupan kita.
Hormati dan berbaktilah kepada orang tua. Kasih sayang, doa, dan pengorbanan orang tua merupakan sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Wiwi andani mengatakan...


INTI CERITA

Cerita ini mengisahkan perjuangan seorang anak sulung yang harus mengubur cita-citanya menjadi praktısı hukum Setelah ayahnya meninggal dunia, la berusaha membantu Ibunya membiayai pendidikan adık-adiknya dan akhirnya menemukan panggilar hidup sebagai seorang guru, Dengan Penuh keikhlasan, kesabaran, dan semangat, ia mengajar anak-anak kurang mampu melalui program smp terbuka hingga mereka berhasil lulus dan melanjutkan pendidikan. Berkat kerja keras, doa, dan dukungan ibunya menyelesaikan kuliah, menjadi wisudawan terbaik, dan diangkat menjadi PNS

AMANAH

1.ikhlas dalam bekerja: Bekerjalah dengan tulus tanpa
mengharapkan imbalan yang besar, karena membantu orang lain juga merupakan bentuk ibadah.

2.Jangan mudan menyeran: kegagatan dan kesulitan bukan alasan untuk berhenti berjuang meraih cita-cita.

3.Hormati dan sayangi orang tua: Doa, pengorbanan, dan kasih Sayang orang tua merupakan hal yang sangat berharga dalam kehidupan.


4.Pentingnya pendidikan :setiap anak berhak memperoleh pendidikan, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

5.Hargai jasa guru: Guru memiliki peran penting dalam membimbing, mendidik, dan membantu peserta didik meraih masa depan.

ince zalfa salsabila reso mengatakan...

1.Inti cerita
cerita ini seorang perempuan yang harus mengubur cita-citanya karena ayahnya meninggal ia memilih membantu ibunya dan membiayai sekolah adik-adiknya akhirnya ia menjadi guru dan membantu anak-anak yang kurang mampu agar tetap bisa sekolah berkait dengan keras dan kesabarannya ia berhasil meraih kesuksesan

2.amanah
Makasih kita harus tetap kuat dan tidak mudah menyerah saat menghadapi masalah Kita juga harus menyayangi orang tua rajin belajar dan membantu orang lain dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan

Kinayah syahira mengatakan...

Inti cerita
Menurut saya, cerita tersebut adalah perjuangan seorang guru dalam meraih cita-cita dan menghadapi berbagai kesulitan hingga akhirnya menjadi guru.

Amanah
Menurut saya kita tidak boleh mudah menyerah saat mengalami kegagalan kita harus terus berusaha,berdosa menghormati orang tua dan selalu bersyukur

marsya dwi almira mengatakan...

menurut saya, novel ini adalah tentang perjuangan tokoh utama dalam menghadapi kerasnya kehidupan dengan tetap berpegang pada kejujuran, kerja keras, dan nilai kekeluargaan. Cerita ini menggambarkan bagaimana konflik sosial dan perbedaan latar belakang tidak menghalangi seseorang untuk meraih cita-cita jika mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

Amanah yang bisa diambil dari novel ini adalah pentingnya semangat belajar meski dalam keterbatasan, harus selalu jujur, sabar dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah, pentingnya gotong royong, toleransi dan menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat, serta perlunya menjaga adat dan identitas diri di tengah arus modernisasi. Jadi pelajaran utamanya adalah kita harus tetap berusaha, menghormati orang tua, dan tidak mudah putus asa dalam mengejar impian.

Akbar Marikar mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Akbar Marikar mengatakan...

Inti Pesan:
Jatuh bukan berarti selesai. Kadang kegagalan adalah jalan memutar yang membawa kita ke tempat yang memang disiapkan untuk kita. Lewat keikhlasan, doa, dan semangat yang tidak padam, tokoh dalam cerita menemukan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan cara untuk memberi arti pada hidup. Dari ruang kelas, ia menyalakan cahaya bagi generasi penerus, sambil membalas pengorbanan orang tua yang menjadi sumber kekuatannya.

Amanah:
Anggaplah kegagalan sebagai guru, bukan hakim. Setiap kegagalan menyimpan pelajaran yang akan berguna di langkah berikutnya.
Berdamailah dengan takdir tanpa berhenti berusaha. Ikhtiar tetap dijalankan, hasilnya diserahkan kepada Allah Swt., karena rencana-Nya sering lebih baik daripada keinginan kita.Jadikan orang tua sebagai alasan untuk bertahan. Doa dan pengorbanan mereka adalah bekal terkuat dalam perjalanan hidup.Pilihlah jalan yang bermanfaat. Kesuksesan terbesar adalah ketika keberadaan kita membuat hidup orang lain lebih baik.

Ahsanul Taqwin mengatakan...

Teks cerita inspiratif ini menggambarkan perjalanan hidup seorang anak sulung yang merelakan cita-citanya demi keluarga, hingga akhirnya menemukan panggilan hidup yang bermakna sebagai seorang pendidik yang ikhlas.

Kegagalan meraih impian awal bukanlah sebuah kekalahan, melainkan cara Tuhan mengarahkan seseorang ke jalan pengabdian yang lebih baik.
​Keikhlasan dalam bekerja tanpa pamrih, ketangguhan menghadapi ujian hidup, serta doa dan bakti kepada orang tua adalah kunci utama meraih keberhasilan dan kedamaian batin.

gyta jafryni s mengatakan...

Inti:Anak sulung yang gagal jadi lawyer karena ayah wafat, lalu ikhlas jadi guru honorer dan mendirikan sekolah terbuka untuk anak putus sekolah di kampungnya hingga akhirnya sukses jadi PNS dan lulusan terbaik.

Amanat:Kita harus ikhlas berbakti pada orang tua, pantang menyerah dalam keterbatasan, dan percaya bahwa pendidikan serta keikhlasan mengabdi sebagai guru akan membawa berkah dan kesuksesan.

Nursyifa chaerani mengatakan...

Inti cerita novel ini adalah tentang perjuangan tokoh utama menghadapi kerasnya hidup dengan tetap jujur dan kerja keras untuk meraih cita-citanya.

Amanahnya adalah kita harus semangat belajar meski dalam keterbatasan, jujur dan pantang menyerah, serta pentingnya gotong royong dan menghormati orang tua.

Annisa Maharani Putri mengatakan...

Inti :
Seorang anak sulung terpaksa melepas impian menjadi pengacara demi membantu ibunya membiayai keluarga setelah sang ayah meninggal. Ia beralih menjadi guru pamong dan mengelola kelas anak putus sekolah (SMP Terbuka) dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Perjuangan tanpa pamrih itu berbuah manis: murid-muridnya berhasil lulus, sementara dirinya berhasil menyelesaikan kuliah dengan predikat terbaik dan diangkat menjadi PNS.

Amanat:
1. Keikhlasan Bekerja: Pengabdian yang tulus tanpa memikirkan Imbalan materi akan membawa keberkahan dan jalan sukses yang tak terduga.
2. Bakti & Pengorbanan: Berkorban demi keluarga dan mendengarkan nasihat orang tua adalah kunci utama pembuka pintu rezeki.
3. Pantang Menyerah: Saat satu impian kandas, jangan putus asa; rencana Tuhan selalu lebih baik dari yang kita bayangkan.
4. Kepedulian Sosial: Manfaatkan ilmu dan tenaga untuk membantu sesama yang membutuhkan, khususnya dalam dunia pendidikan.

Sharyana pabesak mengatakan...

Inti cerita
Pada cerita ini penulis awalnya bercita-cita menjadi pengacara. Namun setelah ayahnya meninggal, ia mengubur mimpi itu demi menjalankan amanat sang ayah untuk menjaga ibu dan adik-adiknya. Ia beralih menjadi guru dan mendirikan TBK (tempat kegiatan belajar), bagi anak-anak putus sekolah dengan penuh keikhlasan, meskipun harus menghadapi cemohan warga. perjuangannya berbuah manis; murid-muridnya lulus 100% ia diangkat menjadi PNS, mengajar di SMA, merai prestasi tingkat nasional, dan mendampingi ibunya hingga akhir hayat.
Amana ( pesan moral )
Berbakti kepada orang tua, ikhlas tanpa pamrih, kegagalan bukan akhir, hukum tabur tuai.

ANDI MUHAMMAD PUTRA ANULDY mengatakan...

Cerita “Pembelajaran Ikhlas dalam Bekerja Tanpa Pamrih dari Sosok Seorang Bunda dan Guru Tercinta” merupakan kisah yang sangat inspiratif dan penuh makna. Cerita ini mengajarkan kita tentang pentingnya keikhlasan, kerja keras, tanggung jawab, serta pengorbanan dalam menjalani kehidupan. Tokoh utama memberikan contoh bahwa kesulitan dan kegagalan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.

Selain itu, cerita ini mengingatkan kita untuk selalu menghormati dan menghargai jasa orang tua serta guru yang telah membimbing dan mendukung perjalanan hidup kita. Sikap peduli terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan bantuan, juga menjadi pelajaran penting dalam cerita ini. Menurut saya, cerita ini sangat baik untuk dijadikan teladan karena mengajarkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari keikhlasan, pengorbanan, dan manfaat yang kita berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan.

Aisyah Azzahra mengatakan...

> Luar biasa Bu, dari cerita Ibu saya belajar arti ikhlas yang sebenarnya. Ikhlas saat cita-cita jadi lawyer harus berhenti, ikhlas mengajar 34 jam dengan jalan kaki berkilo-kilo, ikhlas mengubah kolom rumah jadi sekolah untuk kami. Terima kasih Bu, karena keikhlasan Ibu lah kami anak TKB yang dulu dianggap pengangguran bisa punya ijazah dan berani bermimpi lagi. "fira"

Aisyah Azzahra mengatakan...

waww luar biasa sekali ibuu kisah ta bisa jadi pembelajaran buat saya dan yg lain untung tdk pantang menyerah dan selalu berusaha ikhlas luv you Buu ( Andi Kayla)

kerenn ceritanyaa terharu🩷🩷 mengatakan...

Masya Allah dari cerita diatas saya dapat mengambil inspirasi bahwa kegagalan seseorang merupakan pelajaran yang sangat berharga dan mengalah bukan berarti kalah. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik untuk ALLAH keren ceritanyaaa

Reply

Nurasmyranda Yusuf mengatakan...

(nurul husna) Cerita ini mengajarkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadapi kesulitan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena bisa jadi hal sederhana yang kita lakukan menjadi kenangan berharga bagi orang lain. Semoga kita selalu memiliki hati yang peduli, tidak mudah menghakimi, dan mampu memberikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar kita. ❤️

Aira Muliyani mengatakan...

Ceritanya sangat menarik dan menginspirasi untuk tetap semangat menjalani hidup. Keren ibuu ceritanya (Ersaa Nailatul Izzah)

Aira Muliyani mengatakan...

Masyaallah perjalanan hidup yang sangat inspiratif dan mengajarkan kita untuk sabar dan ikhlas (Alya Zafirah)

Nurasmyranda Yusuf mengatakan...

Tulisan Ibu begitu menyentuh hati dan memberikan banyak pelajaran berharga. Dari setiap kata yang Ibu tuangkan, tersimpan makna yang mengajak kita untuk lebih memahami kehidupan, menghargai setiap proses, dan mengambil hikmah dari setiap pengalaman. Terima kasih, Ibu, telah berbagi cerita dan pemikiran yang bukan hanya indah untuk dibaca, tetapi juga mampu menyentuh hati dan menginspirasi pembacanya. Semoga setiap tulisan Ibu terus menjadi sumber kebaikan dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapa pun yang membacanya. (Annisa Kamila Azzahra M)

Nisa'ul mengatakan...

Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi kita harus tetap kuat dan tidak menyerah. Perjuangan Ibu mengajarkan kita bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada hikmah dan jalan menuju kesuksesan.

BUTTA MALABBIRIKKU: RUPAMA JEMBATAN CINTA

BUTTA MALABBIRIKKU: RUPAMA JEMBATAN CINTA :   Rupama JEMBATAN  CINTA Mardiah Daeng Baji ...